LINTAS ATJEH | BIREUEN - Bencana banjir yang melanda Gampong Ceubo, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, telah melumpuhkan mata pencaharian utama masyarakat. Ratusan ternak kambing dilaporkan mati, meninggalkan kerugian besar bagi warga yang selama ini bergantung pada sektor peternakan untuk
bertahan hidup.
Masyarakat Ceubo kini sangat mengharapkan bantuan ternak kambing atau bentuk dukungan lainnya guna memulai kembali usaha dan menghidupkan ekonomi keluarga pascabencana. Banjir tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga menghancurkan kandang dan memusnahkan ternak warga.
Salah seorang pelaku usaha penggemukan kambing di Gampong Ceubo, Saifuddin (45), kepada media pada Kamis (22/01/2026) mengungkapkan bahwa terdapat dua kandang besar yang ternak kambingnya mati akibat banjir. Puluhan ekor kambing yang mati tersebut merupakan milik pribadi.
“Di sini, rata-rata warga memelihara kambing sebagai andalan ekonomi. Ada yang memiliki 20 hingga 60 ekor per kepala keluarga,” ujar Saifuddin. Ia berharap adanya perhatian dan bantuan agar masyarakat bisa kembali bangkit, mengingat peternakan kambing telah menjadi tumpuan hidup warga sejak pascatsunami 2024.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Selain peternakan warga, BUMG/Bumdes Barona Gampong Ceubo yang bergerak di bidang peternakan juga terdampak cukup serius. Pendamping Lokal Desa, Muntasir, ST, menyebutkan bahwa sebelum banjir, Bumdesa mengelola sekitar 95 ekor kambing yang dipelihara oleh beberapa warga. Namun saat banjir melanda, sebanyak 40 ekor kambing dilaporkan mati sehingga melumpuhkan bidangan ketahananpanga yang di plot dari Dana Desa 20% tahun 2025", sebut Muntasir yang sering di panggil Yahled oleh warga.
Sementara itu, pelaku UMKM peternakan lainnya, Ashabul Yamin, S.Pd.I (43), juga mengalami kerugian serupa. Ia menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat Ceubo menggantungkan hidup dari sektor peternakan, persawahan, dan perkebunan.
“Untuk sawah, memang sudah mulai digarap kembali, namun kendalanya tiga unit mesin pompanisasi rusak akibat banjir. Sawah seluas sekitar 20 hektare kini hanya mengandalkan air tadah hujan,” jelas Ashabul Yamin.
Ia menambahkan, selama ini hasil pertanian dan peternakan menjadi sumber modal utama masyarakat. Di sisi lain, Ashabul Yamin juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, seperti menyalurkan kitab dan Al-Qur’an kepada santri, pelajar, dan masyarakat, yang bersumber dari para donatur, salah satunya dari Stokist MCI Aceh.
Masyarakat Gampong Ceubo berharap adanya perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait untuk pemulihan sektor peternakan dan pertanian, agar roda perekonomian desa dapat kembali berputar dan kehidupan warga perlahan pulih pasca bencana.[*/Red]
