-->

TNI–Mahasiswa Bersatu Pulihkan Sekolah Pasca Banjir, Wujud Nyata Kepedulian terhadap Pendidikan di Bireuen

18 Januari, 2026, 19.36 WIB Last Updated 2026-01-19T02:42:03Z
LINTAS ATJEH | BIREUEN - Kepedulian terhadap dunia pendidikan pascabencana kembali ditunjukkan secara nyata. Sejumlah prajurit TNI dari Yonif TP 837/KT Kodam V/Brawijaya bersama mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry, serta guru setempat, bergotong royong membersihkan lumpur dan merapikan sisa mobiler serta buku-buku di UPTD SD Negeri 11 Keurumbok, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Minggu (18/01/2026).

Tak ada istilah hari libur bagi prajurit TNI maupun mahasiswa KKN/KPM. Mereka terus berjibaku dengan endapan lumpur yang tebal di lingkungan SD Negeri Keurumbok Kutablang demi mempercepat pemulihan sarana pendidikan yang terdampak banjir.

Kegiatan pembersihan ini dipimpin oleh Letda Inf. Dedi Setia Yudha selaku ketua regu bersama 14 prajurit lainnya. Dengan peralatan sederhana seperti cangkul, sekop, dan gerobak dorong, para prajurit bahu-membahu mengangkat lumpur yang mengendap di halaman sekolah.

Letda Inf. Dedi kepada pewarta menjelaskan bahwa sebanyak 30 personel Yonif TP 837/KT Kodam V/Brawijaya ditugaskan dan bermukim sementara di Posramil Kutablang agar lebih dekat dengan lokasi kegiatan.

“Kami dibagi menjadi dua tim, satu tim membersihkan Puskesmas Kutablang dan tim lainnya fokus di sekolah ini. Prinsipnya, setiap lokasi yang kami tangani harus benar-benar bersih, meskipun harus dikerjakan berulang selama beberapa hari,” ujarnya, didampingi Serka Jafaruddin dari Posramil Kutablang.

Dukungan juga datang dari kalangan mahasiswa. Terlihat mahasiswa USK dan UIN Ar-Raniry aktif membantu proses pembersihan. 

Syifaurrahmah, Ketua Kelompok KPM, dia mahasiswi Fakultas Dakwah Prodi KPI UIN Ar-Raniry, bersama lima rekannya yang sedang menjalani KPM Tematik, turut terlibat langsung membantu sekolah terdampak banjir di Gampong Keurumbok.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Sementara itu, mahasiswa KKNT Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bidang kebencanaan siklotropis juga ambil bagian. Kelompok yang diketuai oleh Rizki Ardiansyah dari Fakultas FKIP Prodi Bahasa Inggris USK Banda Aceh ini berjumlah 10 orang, terdiri dari lima mahasiswa dan lima mahasiswi yang ditugaskan di Gampong Keurumbok, Kecamatan Kutablang.

Plt. Kepala UPTD SD Negeri 11 Keurumbok Kutablang, Nurliana, S.Pd.I, menjelaskan bahwa sekolah yang dipimpinnya mengalami dampak banjir cukup parah. Air setinggi sekitar 1,5 meter merendam seluruh ruangan dan menyisakan endapan lumpur setebal sekitar 0,5 meter.

Sekolah tersebut memiliki enam rombongan belajar (rombel), satu ruang guru, satu ruang perpustakaan, satu gudang, serta satu ruang ujian ANBK yang seluruhnya terdampak.

“Buku-buku dan mobiler sekolah banyak yang rusak. Hari ini Kami sangat berterima kasih kepada TNI dan adik-adik mahasiswa yang telah membantu meringankan beban kami,” ungkap Nurliana.

Ia juga menyampaikan bahwa sebagian ruang sekolah sebelumnya telah dibersihkan oleh guru setempat bersama K3S Kutablang, relawan PMI, KNPI Kabupaten Bireuen dan Kecamatan Kutablang, serta relawan lainnya, bahkan terlihat suami dari Plt. UPTD SDN Keurumbok Azhari, S.Pd, MM mantan kepala SDN 3 Mon Keulayu Gandaura yang setiap hari hadir bekerja membersihkan lumpur atau merapikan yang perlu di kerjakan.

Sementara halaman sekolah telah 20 % di bersihkan menggunakan alat berat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen pada pekan lalu.

Aksi kolaboratif antara TNI, mahasiswa, guru, dan relawan ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap pendidikan tidak hanya diwujudkan melalui proses belajar-mengajar, tetapi juga melalui upaya menjaga kebersihan dan kelayakan lingkungan sekolah. Sekolah yang bersih dan aman adalah fondasi penting bagi pemulihan psikologis dan semangat belajar anak-anak pascabencana.
Gotong royong ini juga mencerminkan nilai kebangsaan dan solidaritas sosial yang patut diteladani. Di tengah keterbatasan pascabanjir, sinergi lintas elemen masyarakat menjadi kekuatan utama untuk memastikan hak anak-anak atas pendidikan tetap terpenuhi.
Pemulihan sekolah bukan sekadar membersihkan lumpur, tetapi juga membersihkan harapan agar masa depan generasi penerus tidak ikut terendam oleh bencana.[*/Re]
Komentar

Tampilkan

Terkini