-->






Ketika Tenda Pengungsi Lenyap Dari Meja Rapat Istana, dan Panglima Memilih Mode Senyap!

23 Maret, 2026, 15.03 WIB Last Updated 2026-03-25T22:12:56Z
ADA BUG ANEH dalam sistem politik kita: semakin tinggi jabatan seseorang, semakin canggih juga fitur filter realitasnya.

Seperti kamera ponsel yang otomatis menghapus jerawat, beberapa laporan birokrasi tampaknya juga punya teknologi serupa—menghapus tenda pengungsian dari pemandangan.

Begitulah kira-kira drama terbaru yang muncul setelah pernyataan Prabowo Subianto soal tidak adanya korban banjir bandang Aceh yang merayakan Idul Fitri di bawah tenda.

Masalahnya sederhana: di lapangan, tenda itu masih ada.
Dan seperti Wi-Fi tetangga yang sinyalnya kuat, foto-fotonya juga mudah ditemukan.

Di sinilah publik mulai mencurigai satu fenomena klasik dalam birokrasi Nusantara: laporan ABS—Asal Bapak Senang.

Ini semacam genre sastra khusus di pemerintahan.

Ceritanya selalu optimistis, konfliknya minimal, dan ending-nya selalu bahagia—setidaknya bagi yang membaca laporan itu di meja ber-AC.

Jika dunia teknologi punya istilah beta testing, birokrasi kita punya yang lebih canggih: reality testing.

Sayangnya kadang yang diuji bukan kebijakan, melainkan kesabaran publik.

Namun polemik ini tidak berhenti pada soal laporan yang terlalu manis seperti sirup lebaran.

Yang membuat publik Aceh mengernyit justru bagian lain dari cerita: keheningan sang gubernur.

Nama itu adalah Muzakir Manaf—atau yang lebih dikenal sebagai Muallem.
Seorang tokoh yang dalam sejarah Aceh dikenal bukan tipe pemimpin dengan tombol mute permanen.

Dalam bab lama sejarah konflik Aceh, Muallem adalah Panglima dari Gerakan Aceh Merdeka.

Dalam cerita itu, dia bukan karakter figuran yang berdiri di belakang panggung.
Dia adalah tokoh utama yang dulu berbicara dengan bahasa yang jauh lebih keras daripada sekadar konferensi pers.

Karena itu publik Aceh punya memori kolektif yang unik tentang dirinya.
Muallem dikenal sebagai orang yang jika melihat sesuatu tidak masuk akal, biasanya akan berkata, “Itu tidak masuk akal.”

Contohnya belum lama ini ketika bantuan luar negeri untuk korban banjir sempat dipersulit oleh pemerintah pusat.

Komentarnya sederhana, tapi tajam: “Orang mau bantu kok kita persulit, kan bodoh?”

Kalimat itu pendek, tapi efeknya seperti tamparan logika di ruang rapat birokrasi.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Namun kali ini ceritanya berbeda.
Ketika polemik pernyataan presiden tentang kondisi korban banjir muncul, panggung tiba-tiba berubah menjadi sunyi.

Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada koreksi.
Tidak ada bahkan sekadar kalimat diplomatis seperti “kami akan cek kembali data di lapangan.”

Padahal jika politik adalah pertandingan sepak bola, situasi ini seperti kiper yang biasanya refleks menepis bola, tiba-tiba memilih berdiri sambil mengamati bola masuk ke gawang.

Publik tentu bertanya-tanya.
Apakah ini strategi?
Atau sekadar mode airplane dalam komunikasi politik?

Sejarah sering mengajarkan bahwa banyak pemimpin berubah setelah masuk ke dalam sistem yang dulu mereka kritik.
Seperti karakter film yang awalnya pemberontak, lalu setelah jadi direktur perusahaan, mendadak sibuk mengatur jadwal rapat.

Fenomena ini bukan hal baru.
Dalam banyak cerita revolusi dunia, mantan pemberontak kadang berubah menjadi administrator yang sangat berhati-hati.
Sangat hati-hati sampai-sampai kata “komentar” terasa seperti ranjau politik.

Namun bagi publik Aceh, diamnya Muallem terasa janggal justru karena masa lalunya.
Ini seperti melihat gitaris rock tiba-tiba memilih memainkan musik lift di hotel.

Tentu saja politik selalu lebih rumit dari sekadar cerita hitam putih.
Ada diplomasi, ada strategi, ada keseimbangan kekuasaan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Tapi tetap saja, bagi orang yang dulu dikenal berani mengatakan sesuatu itu bodoh ketika memang bodoh—diam adalah perubahan yang cukup mencolok.

Mungkin ini hanya jeda.
Mungkin juga ini strategi menunggu momen yang tepat.

Atau mungkin kita hanya sedang menyaksikan paradoks klasik politik:
seorang mantan panglima yang dulu memimpin orang keluar dari hutan untuk melawan kesewenang-wenangan, kini justru memilih bersembunyi di balik semak-semak diplomasi.

Dan ironinya, di Aceh hari ini, yang paling terlihat justru bukan pidato para pemimpin—
melainkan tenda-tenda yang konon katanya sudah tidak ada.

Penulis: Adly Jay Lanie (Pakar Resolusi Konflik Rumah Tangga)
Catatan: tulisan opini yang ditayangkan dilansir dari postingan Facebook melalui akun Adly Jay Lanie 
Komentar

Tampilkan

Terkini