-->








MUI Mengucapkan Belasungkawa atas Meninggalnya 3 Prajurit TNI di Lebanon

31 Maret, 2026, 22.36 WIB Last Updated 2026-03-31T15:37:40Z
LINTAS ATJEH | JAKARTA - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh menyampaikan belasungkawa atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon. 

Ketiga prajurit TNI tersebut gugur akibat serangan Israel ke Lebanon. Mereka tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda (Konga) pada misi United Nation Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

"MUI mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya tiga prajurit terbaik yang dimiliki oleh Indonesia pada saat tugas menjalankan perlindungan terhadap warga sipil sebagai bagian dari upaya mewujudkan perdamaian di dalam tugas PBB untuk menjaga perdamaian," kata Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026). 

Ulama yang akrab disapa Prof Ni'am ini menerangkan, penjagaan terhadap perdamaian adalah mandat kenegaraan dan keagamaan.

Dalam perspektif Islam, setiap Muslim adalah setiap orang yang merasa aman, damai, dan juga mampu memelihara kedamaian dari lisan dan tindakannya. 

"Bagi setiap orang yang berupaya mempertahankan perdamaian dan meninggal dalam upaya tujuan mengupayakan perdamaian ini Insya Allah dicatat sebagai syahid," kata Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. 

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

MUI menyampaikan turut berduka cita kepada keluarga tiga prajurit terbaik Indonesia. MUI mendoakan agar tiga prajurit terbaik Indonesia yang gugur ditempatkan di tempat terbaik oleh Allah SWT. 

Prof Ni'am menegaskan sikap MUI mengutuk keras tindakan brutal tentara Israel yang menghilangkan nyawa tiga prajurit terbaik Indonesia. 

"Tentu ini bertentangan dengan hukum kemanusiaan, bertentangan dengan aturan-aturan hukum internasional dan juga bertentangan dengan spirit serta semangat damai dan juga perdamaian," kata dia. 

Menurutnya, PBB perlu turun tangan untuk memberikan perlindungan terhadap setiap upaya masyarakat internasional dalam mewujudkan perdamaian dan kedaulatan setiap bangsa. 

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini menilai pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah terukur di dalam diplomasi internasional. Hal ini dengan mengutamakan perlindungan terhadap jiwa di atas segalanya. 

"Jangan sampai ini berulang sehingga menimbulkan korban berikutnya. Kita semua harus bergandengan tangan untuk mewujudkan perdamaian abadi yang menjadi cita-cita kemanusiaan kita dan juga cita-cita kemerdekaan oleh founding father kita,"  kata dia menerangkan.[MUI Digital]
Komentar

Tampilkan

Terkini