-->

Sehari Setelah Musda, Muktarrudin Usman Ajak Bersatu Selamatkan Industri Pers Aceh

31 Juli, 2026, 14.56 WIB Last Updated 2026-07-31T07:56:39Z
LINTAS ATJEH BANDA ACEH – Hiruk-pikuk Musyawarah Daerah (Musda) III Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh di Hotel Amel, Banda Aceh, Kamis (30/7/2026), telah berakhir. Setelah melalui perdebatan panjang dan upaya musyawarah mufakat yang tidak menemukan titik temu, forum akhirnya memilih mekanisme pemungutan suara. Hasilnya berlangsung dramatis. Muktarrudin Usman kembali dipercaya memimpin SPS Aceh setelah meraih 19 suara, unggul tipis atas pesaingnya yang memperoleh 18 suara.

Sehari berselang, Jumat (31/07/2026), suasana kompetisi tak lagi menjadi pembicaraan. Di ruang kerjanya, Ketua SPS Aceh terpilih itu justru mengajak seluruh perusahaan pers menatap tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar kontestasi organisasi.

«"Musda sudah selesai. Tidak ada lagi kubu A atau kubu B. Yang ada sekarang adalah keluarga besar SPS Aceh. Amanah jangan direbut dan jangan dipaksakan. Kalau memang menjadi ketetapan Allah, insya Allah akan datang. Kalau bukan, tidak baik dipaksakan," ujar CEO Grup MEDIA ACEH itu.

Muktarrudin mengaku tidak mempermasalahkan berbagai dinamika yang mewarnai Musda, termasuk berubahnya dukungan dari sejumlah anggota menjelang pemungutan suara. Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan hal yang lumrah dalam organisasi. Namun setelah keputusan diambil secara demokratis, seluruh anggota harus kembali bersatu.

Baginya, tantangan sesungguhnya justru berada di luar ruang sidang. Industri pers, khususnya media lokal, sedang menghadapi tekanan yang semakin berat. Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, pesatnya transformasi digital, serta dominasi platform digital global dalam menguasai belanja iklan membuat banyak perusahaan pers harus berjuang keras mempertahankan usahanya.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

"Hari ini kita tidak sedang bersaing sesama media. Tantangan kita adalah bagaimana perusahaan pers tetap hidup, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan tetap menghasilkan karya jurnalistik yang profesional. Karena itu, tidak ada waktu lagi untuk terus berselisih paham," katanya.

Empat tahun lalu, saat pertama kali memimpin SPS Aceh, kondisi organisasi masih sangat terbatas dengan hanya dua perusahaan pers yang aktif sebagai anggota. Melalui konsolidasi yang dilakukan secara berkelanjutan, jumlah anggota terus bertambah hingga mencapai 37 perusahaan pers yang memiliki hak suara pada Musda III.

Di bawah kepemimpinannya, SPS Aceh juga mencatat berbagai prestasi nasional. Pada 2024, SPS Aceh dinobatkan sebagai SPS Provinsi Terbaik oleh SPS Pusat. Setahun kemudian, Aceh sukses menjadi tuan rumah peringatan HUT SPS ke-79, Rapat Kerja Nasional (Rakernas), dan SPS Awards yang dihadiri ratusan peserta dari 30 provinsi. Keberhasilan tersebut kembali mengantarkan SPS Aceh meraih predikat SPS Terbaik 2025, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pengurus daerah paling aktif di Indonesia.

Meski demikian, Muktarrudin menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan akhir. "Prestasi itu adalah hasil kerja bersama seluruh anggota. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana SPS terus hadir membantu anggotanya menghadapi perubahan zaman, memperkuat manajemen perusahaan pers, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membuka peluang kolaborasi yang bermanfaat."

Ia pun mengajak seluruh pengelola perusahaan pers di Aceh, termasuk yang belum bergabung, untuk menjadi bagian dari SPS, organisasi perusahaan pers tertua di Indonesia yang berdiri pada 8 Juni 1946 di Yogyakarta.

"Mari kita tinggalkan semua perbedaan. Pintu SPS terbuka bagi semua perusahaan pers. Kalau kita bersatu, saya yakin perusahaan pers di Aceh akan semakin kuat menghadapi disrupsi digital dan tetap menjadi pilar demokrasi yang dipercaya masyarakat," pungkasnya.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini