-->

Aliansi RANUB Gelar Aksi Simbolik: “Beutong Ateuh Memanggil”

23 September, 2026, 03.36 WIB Last Updated 2026-09-22T20:36:48Z
LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Aliansi RANUB (Rakyat Aceh untuk Beutong) menggelar aksi simbolik bertajuk “Beutong Ateuh Memanggil” di Tugu Simpang Lima, Banda Aceh, Selasa (22/09/2026). Aksi ini merupakan bentuk pengingat kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Aceh bahwa hingga hari ini ruang hidup masyarakat Beutong Ateuh masih berada dalam ancaman aktivitas pertambangan.

Melalui aksi tersebut, Aliansi RANUB menegaskan bahwa perjuangan masyarakat Beutong Ateuh belum berakhir. Ancaman terhadap hutan, sumber mata air, lahan pertanian, dan ruang hidup masyarakat masih membayangi selama rencana dan aktivitas pertambangan tetap dipertahankan di kawasan tersebut.

Koordinator Lapangan, Rahmat Ramadan, menyampaikan bahwa aksi ini bukan sekadar simbol, melainkan panggilan agar pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap suara masyarakat Beutong Ateuh.

Aliansi RANUB menegaskan bahwa sikap masyarakat tetap konsisten, yakni menolak segala bentuk aktivitas pertambangan di Beutong Ateuh karena dinilai berpotensi mengancam keberlanjutan lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada kawasan tersebut.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Koordinator Lapangan, Rahmat Ramadan, menyampaikan bahwa aksi ini bukan sekadar simbol, melainkan panggilan agar pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap suara masyarakat Beutong Ateuh. 

“Rakyat hari ini sudah begitu lelah, ancaman pertambangan terus menghantui hidup mereka. Kami mendesak pemerintahan Aceh untuk menaruh perhatian serius agar segera mencabut iup kedua pt yang telah terbit tahap eksplorasi yaitu pt alam cempaka wangi dan pt hasil bumi sembada.

Aliansi RANUB menegaskan bahwa aksi ini bukanlah simbolik semata, tapi ini adalah “muqaddimah pergerakan” untuk terus bergerak berdampingan dengan masyarakat dalam memperjuangkan hak hidup mereka. 

Aliansi RANUB berharap dan memohon pertolongan seluruh elemen masyarakat sipil, akademisi, mahasiswa, media, dan organisasi masyarakat dapat terus mengawal perjuangan masyarakat Beutong Ateuh dalam mempertahankan tanah ruang hidup mereka.

“Beutong Ateuh memanggil bukan hanya masyarakatnya, tetapi juga seluruh pihak yang masih percaya bahwa hutan, air, dan tanah adalah warisan indatu yang harus dijaga bersama.”[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini