-->

Bukan Sekadar Rembug! Geulanggang Gampong Tancap Gas Perangi Stunting, 43 Ibu Hamil Jadi Perhatian

23 September, 2026, 19.29 WIB Last Updated 2026-09-23T12:29:19Z
LINTAS ATJEH | BIREUEN - Upaya mencegah stunting di Gampong Geulanggang Gampong, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, tak berhenti pada wacana. Pemerintah gampong bersama tenaga kesehatan, kader, pendamping desa dan lintas sektor memperkuat langkah pencegahan sejak dari masa kehamilan.

Langkah tersebut mengemuka dalam Pra-Musrenbang Tematik Stunting yang digelar di Meunasah Gampong Geulanggang Gampong, Rabu (23/9/2026). Forum ini menjadi ruang bersama untuk memetakan persoalan kesehatan sekaligus merumuskan kebutuhan program yang akan menjadi bagian dari Rencana Kerja Pemerintah Gampong (RKPG) Tahun Anggaran 2027.

Keuchik Geulanggang Gampong, Teuku Saifunna, menegaskan rembug tematik stunting bukan sekadar agenda administratif. Forum tersebut harus menghasilkan langkah nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Hasil rembug hari ini harus menjadi acuan dalam menyusun usulan program gampong tahun depan, khususnya bidang kesehatan. Kita ingin program yang direncanakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tegas Teuku Saifunna.

Gampong Geulanggang Gampong terdiri dari empat dusun, yakni Dusun Cureh Barat, Cureh Selatan, Cureh Timur dan Cureh BTN Ku Pula Indah, dengan sekitar 1.231 kepala keluarga.

Meski hingga kini tidak ditemukan kasus stunting maupun gizi buruk, pemerintah gampong tetap tidak ingin lengah. Masih adanya kondisi gizi kurang menjadi perhatian dan akan ditindaklanjuti melalui pemantauan tenaga kesehatan dan kader.

“Alhamdulillah, untuk stunting dan gizi buruk tidak ada. Tetapi ada kondisi gizi kurang yang tetap harus kita perhatikan. Data dan penanganannya akan disampaikan oleh bidan dan kader karena mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ujarnya.

Bidan Desa Geulanggang Gampong, Nana Fitriani, menyampaikan bahwa pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum anak lahir.

Karena itu, Kelas Ibu Hamil diperkuat sebagai salah satu instrumen edukasi dan pendampingan. Kegiatan tersebut kini dilaksanakan secara terpisah dari Posyandu dan dijadwalkan pada minggu ketiga setiap bulan.

Langkah tersebut dimaksudkan agar ibu hamil mendapatkan pembelajaran yang lebih fokus mengenai kehamilan sehat, persiapan persalinan, kesehatan ibu dan bayi hingga pencegahan stunting.

Materi yang diberikan mencakup pemenuhan gizi selama kehamilan, persiapan persalinan, ASI, imunisasi, makanan bergizi, kesehatan reproduksi, pencegahan kehamilan berisiko serta pemantauan kesehatan ibu dan anak.

Edukasi juga menyoroti faktor risiko 4T, yakni terlalu muda hamil, terlalu tua hamil, terlalu dekat jarak kehamilan dan terlalu banyak anak.

Tidak sekadar ceramah, metode pembelajaran dibuat lebih interaktif melalui video edukasi, bermain peran, komik edukasi hingga aktivitas fisik.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Data hingga Agustus 2026 mencatat terdapat 43 ibu hamil dan 22 ibu nifas di Gampong Geulanggang Gampong. Angka tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan kebutuhan pendampingan kesehatan ibu dan anak.

Persoalan lain yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah cakupan imunisasi dasar lengkap.

Hingga Agustus 2026, cakupan imunisasi dasar lengkap tercatat sekitar 34 persen. Capaian tersebut masih perlu didorong melalui edukasi yang lebih intensif, terutama terkait imunisasi DPT-HB.

Masih adanya keluarga yang belum memberikan imunisasi kepada bayi dan balita antara lain dipengaruhi kekhawatiran terhadap efek samping, seperti demam, serta keputusan keluarga yang belum sepenuhnya mendukung imunisasi.

Karena itu, tenaga kesehatan bersama kader terus memperkuat komunikasi dengan keluarga agar masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai manfaat imunisasi bagi perlindungan kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Bidan Desa Nana Fitriani bersama Ketua Posyandu Gampong Nurjalis turut memberikan edukasi terkait kesehatan ibu hamil, bayi, balita dan lansia. Kader KPM juga terlibat dalam pemantauan serta pelaporan kondisi sasaran di tingkat gampong.

Keuchik Teuku Saifunna menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum persoalan kesehatan muncul.

Ia mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap pola hidup sehat, kebersihan lingkungan serta konsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

“Jangan menunggu anak bermasalah baru kita bergerak. Pencegahan harus dimulai dari keluarga, dari masa kehamilan, dengan pola hidup sehat, makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan dan imunisasi,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pencegahan stunting membutuhkan kerja bersama. Pemerintah gampong tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan tenaga kesehatan, kader, keluarga dan seluruh unsur masyarakat.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan rembug tematik stunting, mulai dari Kecamatan Kota Juang, Puskesmas, UPTD KB, TNI-Polri, PKK, pendamping desa, kader Posyandu, KPM hingga tokoh agama dan masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Kecamatan Kota Juang Azhari Ibrahim, S.Pd., mewakili Camat Kota Juang; Ketua TP-PKK Kecamatan Kota Juang Popy A.Md.Kep, Kapolsek Kota Juang Iptu Faisal, S.H, Danramil Kota Juang Kapten Inf. Hesniady, Kepala Puskesmas Kota Juang dr. Asmaul Husna bersama petugas kesehatan, Ketua TP-PKK Gampong Geulanggang Gampong Jilia Funnan; Pendamping Desa Kecamatan Kota Juang Romi Yulinda, Bidan Desa Nana Fitriani, S.Tr.Keb, Evi Eliza, A.Md.Kep, kader Posyandu, kader KB, KPM, serta tokoh agama dan masyarakat.

Dengan penguatan Kelas Ibu Hamil, Posyandu, pemantauan ibu dan anak serta peningkatan cakupan imunisasi, Gampong Geulanggang Gampong berupaya membangun sistem pencegahan stunting yang dimulai dari hulu.
Pesannya jelas: stunting tidak boleh ditunggu. Pencegahannya dimulai hari ini—dari ibu hamil, dari keluarga, dan dari gampong.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini