LINTAS ATJEH| BIREUEN - Suasana serius dalam pelatihan kehumasan di Aula Mapolres Bireuen, Sabtu (12/09/2026), mendadak berubah penuh tawa ketika Koresponden Acehsatu.com, Muhammad Idris Albafadel Asahparang, diminta Kapolres Bireuen AKBP Yulhendri tampil spontan di hadapan peserta.
Mengawali penampilannya, Idris terlebih dahulu menyampaikan salam penghormatan kepada Kapolres Bireuen beserta seluruh jajaran.
“Salam hormat kepada Bapak Kapolres Bireuen beserta seluruh jajaran. Semoga selalu sukses dan menjadi calon jenderal. Aminnn...” ujar Idris.
Belum selesai kalimat tersebut, sejumlah peserta pelatihan langsung menyahut serentak dengan penuh semangat.
“Aminnn!”
Suasana aula pun sontak pecah oleh tawa dan tepuk tangan.
Idris kemudian melanjutkan dengan gaya santainya.
“Saya ini wartawan modus,” katanya spontan.
Kalimat tersebut kembali mengundang tawa peserta.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Namun, “modus” yang dimaksud Idris bukan mencari sensasi, melainkan guyonan tentang dirinya yang masih terus belajar dan mencari pengalaman di lapangan.
“Modus jadi wartawan, modus membuat peserta tertawa. Saya masih banyak membutuhkan bimbingan dan bantuan, baik dalam meliput maupun membuat berita. Pekerjaan saya sekarang juga sebagai Pendamping Lokal Desa Kecamatan Gandapura, jadi saya masih terus belajar,” katanya.
Di balik candaan tersebut, Idris menyampaikan pesan bahwa dunia jurnalistik dan komunikasi publik merupakan ruang belajar yang tidak pernah selesai.
Apalagi di era digital, informasi bergerak begitu cepat. Masyarakat membutuhkan informasi yang bukan hanya cepat, tetapi juga benar, berimbang, mudah dipahami dan disampaikan secara humanis.
Menurut Idris, tantangan komunikasi publik saat ini bukan hanya bagaimana menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana memastikan informasi tersebut tidak menjadi bahan kesalahpahaman, hoaks maupun informasi yang menyesatkan.
Karena itu, kemampuan komunikasi publik tidak semata-mata menjadi tugas personel Humas.
Setiap anggota kepolisian yang berinteraksi langsung dengan masyarakat pada hakikatnya adalah komunikator publik.
Momen spontan tersebut menjadi salah satu bagian paling menarik dalam pelatihan. Sebuah candaan sederhana berhasil mencairkan suasana, sekaligus memperlihatkan bahwa membangun komunikasi dengan masyarakat dapat dilakukan dengan pendekatan yang dekat, terbuka dan humanis.
Pelatihan kehumasan yang digelar Polres Bireuen menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan personel dalam menghadapi tantangan komunikasi di era digital, termasuk menangkal hoaks dan menyampaikan informasi kepolisian secara cepat, tepat serta bertanggung jawab.
Setelah sesi spontan Idris, materi utama kemudian dilanjutkan oleh Kasat Humas Polres Bireuen AKP M. Nasir, SH.

