LINTAS ATJEH | BIREUEN - Tradisi turun-temurun kembali menyatukan masyarakat Gampong Cot Tufah, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen. Seratusan warga berkumpul dalam kenduri turun sawah atau Khanduri Blang di kawasan Tanjong, sekitar persawahan Dusun Perdamaian, Kamis (22/10/2026), sebagai ikhtiar bersama memohon keberkahan dan kelancaran musim tanam padi.
Bukan sekadar makan bersama, Khanduri Blang menjadi simbol kuatnya persaudaraan masyarakat tani, perpaduan nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan harapan terhadap hasil panen yang melimpah.
Tradisi ini rutin dilaksanakan menjelang masyarakat turun ke sawah. Melalui doa bersama, warga berharap musim tanam berjalan lancar, ketersediaan air mencukupi, tanaman terhindar dari gangguan, dan hasil panen membawa kesejahteraan bagi keluarga petani.
Keuchik Gampong Cot Tufah, Asnawi (54), menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki empat dusun, yakni Dusun Tgk. Dileubu, Perdamaian, Panglima Razak, dan Tgk. Dikreung.
“Gampong Cot Tufah memiliki sekitar 72 hektare lahan persawahan. Dalam setahun, petani mengupayakan dua kali musim tanam dengan mengandalkan air hujan, aliran Sungai Krueng Leubu, serta sumur bor milik gampong dan masyarakat,” jelasnya.
Ia menyebutkan, produktivitas padi di wilayah tersebut rata-rata mencapai delapan ton per hektare setiap panen. Potensi ini menjadi modal penting bagi masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan perekonomian petani.
Suasana Khanduri Blang berlangsung penuh keakraban. Kaum ibu sibuk memasak di lokasi kegiatan dengan membawa peralatan dapur sederhana, sementara kaum bapak turut membantu mempersiapkan kebutuhan acara.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengajian dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebelum seluruh masyarakat menikmati hidangan yang telah disiapkan.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Doa dipimpin oleh Abiya H. Muhammad Baidawi H.M., pimpinan Dayah Salafi Ma’had Tuhfatul Ba’dhai Al-Aziziah (MAFADH ATJEH) yang berada di gampong setempat.
Momentum tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempererat silaturahmi sekaligus memanjatkan harapan agar usaha pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga senantiasa mendapat keberkahan.
Dalam kesempatan itu, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Gandapura, Mahmuddin, SP, menyampaikan terima kasih atas undangan dan kesempatan untuk bersilaturahmi langsung dengan masyarakat petani Cot Tufah.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan sektor pertanian melalui penerapan teknologi dan pola budidaya yang lebih modern, sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Menurutnya, petani perlu terus didorong untuk meningkatkan produktivitas melalui penggunaan benih unggul, pengelolaan air yang baik, pemupukan berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta pemanfaatan alat dan mesin pertanian sesuai kebutuhan.
Penerapan pertanian modern diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, menekan biaya produksi, dan meningkatkan kesejahteraan petanian.
Khanduri Blang Gampong Cot Tufah turut dihadiri unsur Muspika Kecamatan Gandapura, Camat Gandapura Birul Walidin, S.STP., M.Ec.Dev.; Kapolsek Gandapura Iptu Jusman, S.Sos., beserta anggota; Danramil 08/Gandapura Kapten Inf. Nurdin Juned beserta anggota; serta Mukim Gandapura Baras Tgk. Usman Kelana.
Hadir pula Camat Makmur Asrial Vahmi, S.STP., M.Tr.I.P.; Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Pemkab Bireuen H. Azmi, S.Ag., yang merupakan mantan Camat Gandapura; pimpinan Dayah Irsyadul Awam (DAWAM) Cot Tufah Tgk. Fuad; Pendamping Lokal Desa (PLD) setempat Muhammad Idris; para keuchik dari sejumlah gampong di Kecamatan Gandapura; serta jajaran BPP Gandapura dan para penyuluh pertanian.
Kehadiran unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, pendamping desa, dan tenaga penyuluh pertanian tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam mendukung kehidupan sosial masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Usai doa dan makan bersama, sebagian tamu juga menerima hidangan berupa nasi dan daging ayam untuk dibawa pulang.
Khanduri Blang di Cot Tufah pun menjadi pengingat bahwa di balik hamparan sawah yang luas, terdapat doa, kerja keras, dan kebersamaan yang terus dirawat. Dari tradisi yang diwariskan para pendahulu, masyarakat kembali meneguhkan harapan: musim tanam yang baik, panen yang melimpah, dan kehidupan petani yang semakin sejahtera.[*/Red]
