![]() |
| Keluarga korban |
ACEH TIMUR - Kasus
kematian Ubaidillah bin Rusli (15), anak dari pasangan Rusli dan Nurhayati,
warga Desa Julok Tunong, Kecamatan Julok, Aceh Timur, yang meninggal pada 22
Desember 2013 lalu masih menyimpan misteri.
Menurut Bibik korban
Rubiah (50), warga Desa Alue Baro, Kecamatan Seunedon, Aceh Utara,
mengungkapkan kematian keponakannya itu diduga karena dianiaya oleh teman
sekamarnya. "Almarhum meninggal diduga kuat karena dianiaya oleh teman
satu kamarnya," ungkap Rubiah, kepada lintasatjeh.com, Senin (27/10) di
kantor Persatuan Wartawan Aceh Timur.
Peristiwa kematian
Ubaidillah, cerita Rubiah, diketahui oleh keluarga setelah diantar menggunakan
Ambulan ke rumah korban setelah sempat dibawa oleh pihak Dayah ke Puskesmas
Julok Cut. Namun yang sangat mencurigakan, mengapa tidak ada dilakukan visum
dan keesokan harinya langsung dikebumikan di TPU desa setempat.
"Padahal kami
sekeluarga dan Tgk Imum yang memandikannya melihat kondisi tubuh korban terdapat
bekas memar-memar," ujarnya.
Menanggapi hal ini,
Kuasa hukum korban Husni Tanjung Thamrin SH, mengatakan bahwa kliennya sepasang
suami istri Rusli dan Nurhayati telah melaporkan kejadian ini secara resmi
kepada pihak Kepolisian Sektor Julok, Aceh Timur, pada 16 Januari 2014, dengan
bukti terlampir, tetapi sampai saat ini kasusnya masih di Kepolisian.
"Fatalnya pihak
penyidik tidak ada melakukan proses otopsi," urainya.
Padahal, bukti
penganiayaan tersebut bisa dilihat dari saksi teman satu kamar anak klien di
Dayah Darul Atiq, serta pengakuan keluarga korban dan Tgk Imum yang melihat
adanya bekas memar–memar di tubuh korban. Untuk itu, pihaknya melaporkanya
kasus ini ke Polda Aceh, dengan nomor: 101/P/KH-HTT/X/2014, pada 22 Oktober
2014.
“Kami mohon kepada
Kapolda Aceh untuk mengintruksikan pihak Polsek Julok agar menindak lanjuti
pengaduan klien kami, sebelum alat bukti dan tersangkanya hilang atau melarikan
diri," tandas Thamrin.
Kasus kematian Nurani
yang masih misterius.
Kasus kematian Nuraini
(30) warga Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur juga masih
menyisakan misteri, hingga saat ini Kepolisian Sektor Ranto Peureulak, dan
Polres Aceh Timur, belum dapat menetapkan tersangka dari kematian Nuraini, yang
diduga kuat telah dibunuh.
Sebagaimana diketahui,
Nuraini (30) meninggal di kediamanya di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto
Peureulak, Aceh Timur, Minggu 10 November 2013 silam, sekitar pukul 23.00 WIB.
Kematian Nuraini, cerita abang korban M Ramli, diketahui pertama kali oleh
suami korban Sarbaini (38) setelah pulang membeli BBM jenis bensin menggunakan
sepeda motor dari Kecamatan Peureulak, Minggu (10/11) malam sekitar pukul 23.00
WIB, ketika suami korban masuk ke dalam rumah dan spontan berteriak meminta
tolong karena telah terjadi pembunuhan terhadap istrinya Nuraini (30), seketika
warga langsung mendatangi tempat kejadian, dan pada saat itu suami korban
menunjuk ke arah belakang rumah sebagai isyarat bahwa pelaku telah melarikan
diri.
Sambungnya, namun saat
warga setempat datang ke lokasi untuk memberi pertolongan, M Rafi (30)
sebutnya, mengaku tidak melihat adanya orang lain dan tanda–tanda bahwa ada
orang yang bergerak dan melarikan diri ke belakang rumah korban, maupun
tanda–tanda adanya orang yang masuk ke dalam rumah korban, sementara itu,
dikatakan Ramli, menurut pengakuan Sarbaini suami korban kepada warga, bahwa
kondisi istrinya Nuraini saat ditinggalkan di rumah saat pergi ke Peureulak,
hingga pulang masih tetap dalam kondisi tertidur dengan posisi yang sama di
depan TV dalam ruangan, dan pada saat suami korban Sarbaini hendak pergi ke
Peureulak secara bersamaan datang sebuah mobil Carry Pick Up yang dikemudikan
Saifannur (38) warga desa setempat ke rumah Sarbaini untuk menempel ban mobilnya,
tetapi Sarbaini menolak dan beralasan tidak sempat karena buru-buru.
Dikatakannya, pada saat itu M Rafi meminta tolong kepada Safari (60) warga Desa
Bhom Lama, Kecamatan Peureulak untuk melaporkan ke pihak Polsek Ranto
Peureulak, bahwa telah terjadi perampokan dan pembunuhan. Diakuinya, pada saat
itu korban Nuraini yang telah meninggal dunia dibawa Puskesmas Ranto Peureulak,
dan dinyatakan oleh pihak medis korban terkena pukulan benda tumpul, dan saat
itu dirujuk ke RSUD Idi, dan dinyatakan meninggal dengan ditemukan bekas luka
tikaman di belakang telinga sebelah kanan korban.
Pada saat itu pihak Polsek
Ranto Peureulak telah memasang Police Line dan melakukan olah TKP, serta
memanggil para saksi, termasuk suami korban Sarbaini (38) dan adik Sarbaini,
yang rumahnya berdekatan dengan korban yakni Syahirman (30), tetapi hingga saat
ini hasil penyelidikan pihak Polsek Ranto Peureulak belum menetapkan tersangka
pembunuhan ini.
Ramli juga menyebutkan, hasil penyelidikan dari pihak Polsek
Ranto Peureulak, belum membuahkan hasil, pihak keluarga korban didampingi
sejumlah warga pada Selasa 17 Desember 2013 lalu, sekitar pukul 11.00 WIB,
mendatangi Polres Aceh Timur dan bertemu dengan Kapolres Aceh Timur AKBP
Muhajir SIK, MH, meminta agar kasus tersebut diusut sampai tuntas dan menangkap
pelaku dari pembunuhan tersebut.
Pada saat itu kata Ramli, Kapolres berjanji
akan mengusut tuntas dan memburu pelaku pembunuhan tersebut, agar masyarakat
tidak merasa ketakutan, bahkan pada saat itu Kapolres Aceh Timur mengharapkan
bantuan kerja sama dari pihak keluarga dan masyarakat, untuk dapat memberikan
informasi walau sekecil apapun yang diketahui agar memudahkan pihak Kepolisian
untuk melakukan pengusutan. Namun sampai saat ini, sejak terjadinya peristiwa
pembunuhan tersebut pada Minggu 10 Nopember 2013, sekitar pukul 23.00 WIB.
Lalu, hingga sekarang sudah hampir satu tahun tetapi belum ada tanda-tanda
keberhasilan polisi dalam mengungkap tersangka dari pembunuhan tersebut.
Padahal, keluarga dan warga telah memberikan keterangan kepada pihak Kepolisian
Polsek Ranto Peureulak maupun Polres Aceh Timur, dan telah memberikan
keterangan yang mengarah kepada siapa pelaku dari pembunuhan tersebut, namun
kasus tersebut hingga kini masih belum
terungkap juga.
Oleh karena itu Ramli beserta keluarga korban lainnya
meminta kepada Kapolda Aceh untuk menurunkan Tim khusus untuk mengusut tuntas
dan menangkap tersangaka dari pembunuhan Nuraini (30) sesuai dengan Tupoksi
Kepolisian secara profesional serta demi memberikan rasa aman bagi masyarakat
setempat. (Ilham)



.jpg)



