-->








Kisah Wanita Pengorek Pasir

25 Oktober, 2014, 20.06 WIB Last Updated 2014-10-25T14:22:10Z
ACEH TIMUR - Saat fajar muncul di sebelah timur diiringi dengan suara ayam dan burung yang berkicau menandai bahwa pagi mulai tiba.

Nurazizah (39), warga Alue Bu Tuha, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur ini adalah sosok wanita sekaligus seorang Ibu yang tegar dalam membantu menghidupkan keluarganya.

Nurazizah memiliki 7 putra-putri  dari buah perkawinannya dengan Rusli 46, yang membangun usahanya kecil-kecilan.

Untuk membantu perekonomian keluarganya, Nurazizah yang sedang hamil tua bergegas untuk melakukan aktifitas biasa sebagai penggali pasir.

Saat melakukan pekerjaannya Nurazizah ditemani Wardaniah (41), yang juga warga Desa Alue Bu Tuha, mereka melakukan pekerjaannya dalam kawasan yang tak jauh dari kediamannya.

Biarpun sedang mengandung, Nurhazizah tetap tegar menukuni pekerjaan sebagai penggali pasir. Sungguh tak disangka kehidupan Nurazizah ini menjadi potret seorang ibu yang tegar menukuni pekerjaan sebagai penggali pasir. Baginya, biarpun panghasilan pas-pasan tapi ia bahagia dengan kehidupannya.

Menurut Nurazizah, pekerjaan sebagai penggali pasir sudah ditekuninya sejak sepuluh tahun silam, hal ini terpaksa dilakukannya karena untuk mencukupi biaya anggaran rumah tangga. Dalam sehari, Nurazizah hanya sanggup mengorek satu kubik pasir, itu pun kalau tidak sakit badannya. Maklum saja sedang hamil.

Pasir yang dikorek olehnya  kemudian dijual ke orang yang sedang membangun rumah di sekitarnya, biasanya pasir tersebut dijual dengan harga kisaran Rp35 ribu/kubik.

Tanjakan bukit yang licin seperti jurang tidak dihiraukan olehnya. Satu persatu ember pasir yang sudah disaring di tepi  alur, dinaikan ke atas.

Bukit yang berpapasan di pinggir jalan Alue Bu Tuha menuju ke Alue Bu Tunoeng, di situlah nantinya para pembeli pasir datang.

Rusli, sang suami yang sehari-hari berkerja sebagai buruh di sebuah warung kopi mengakui tidak sanggup menafkahi keluarganya. "Sebenarnya saya tidak sanggup melihat istri saya harus ikut menanggung beban, namun apa boleh buat saya sendiri tidak mampu untuk manafkahi keluarga apalagi anak kami yang kedua sedang di pesantren," ujar Rusli dengan penuh penyesalan.

Dari hasil penjualan pasir, uang tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan dapur, dan tak jarang Nurazizah yang menanggung jajan untuk anak-anaknya yang sekolah.

Kekurangan biaya, terpaksa Nurazizah membantu suaminya dalam menafkahi keluarganya, tidak ada jalan lain selain banting tulang walaupun dengan kondisi hamil tua terpaksa dilakukan olehnya untuk mengurangi beban yang dipikul sang suami.

Tidak ubah juga dengan nasib Wardaniah, kawan seprofesinya yang sehari-hari juga sebagai pekerja pengorek pasir di Desa Alue Bu Tuha menurutnya pekerjaan yang dilakukannya sudah lebih dari sepuluh tahun. Hal ini terpaksa dilakukannya juga demi menafkahi keluarga, sementara sang suami yang sakit terbaring di tikar selama lima tahun lebih dan membuatnya harus mananggung beban keluarga.

Hari berganti hari, seiring dengan berjalannya waktu Nurazizah dan Wardaniah tetap melakukan profesinya demi membantu dan membiayai keluarganya. Tidak tau kapan akan berakhir nasibnya sebagai pengorek pasir, hanya Tuhanlah yang tau.

Nurazizah dan Wardaniah adalah sebagian dari potret kehidupan masyarakat Aceh yang dikenal dengan daerah yang kaya akan hasil alam. Wajar kah Pemerintah menutup mata, tegakah pemerintah menikmati hasil keringat rakyatnya?. (Ilham)
Komentar

Tampilkan

Terkini