0 Kisah Perjalanan Hidup Gadis Perguato Gorontalo [Bagian III] - Lintas Atjeh

Search This Blog

Banyak Di Baca

IKUTI VIA EMAIL

PV

Kisah Perjalanan Hidup Gadis Perguato Gorontalo [Bagian III]

Share it:
Oleh Istanjoeng

Sehingga dia tidak mendatangiku untuk menunaikan kewajibannya, sebagai seorang suami di malam pertama, "Tetapi! Apa?! peduliku dengan semua itu, toh! Aku pun tidak mengi-nginkannya?!," itulah gumamku dalam hati.

Pembaca nurani lintasatjeh.com yang setia. Hari terus berlalu, dan kami pun menjalani aktivitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya..! Dan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami? Bahwa aku telah beristri.

Baca Juga: (Kisah Perjalanan Hidup Gadis Perguato Gorontalo [Bagian I])
Dan memiliki kewajiban, untuk  melayani suamiku, ya..?! Paling enggak menyiapin makanan buatnya. Meskipun, kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku. Aku terkadang masih? Merinduinya.

Semulaku fikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku, untuk menunaikan kewajibannya sebagai suami itu, hanya terjadi di malam pertama pernikahan kami. Tetapi ternyata, yang terjadi adalah hampir tiap malam, sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang.

Baca Juga: (Kisah Perjalanan Hidup Gadis Perguato Gorontalo [Bagian II])

Atau tidur di atas sofa yang ada di dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku, walau hanya menjabat tanganku, jujur! Segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir?! Dia selalu menafkahi diriku, bahkan nafkah lahir dia berikan melebihi dari yang aku butuhkan.

Tetapi soal biologis. Entah mengapa Kak Arfan tidak pernah mengungkit-ngungkitnya, atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kupahami, pernah secara tidak sengaja kami tabrakan di depan pintu kamar, dan Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah, karna menyentuh diriku.

Ada apa?! Dengan Kak Arfan, apa dia lelaki normal, kenapa begitu dingin dia padaku. Apakah aku kurang dimatanya?! Atau..! Pembaca, jujur merasai semua itu. Membuat banyak tanya berkecamuk di benakku.

Ada apa..! Dengan Suami ku, bukankah dia pria yang ber Agama! Dan tau bahwa menafkai istri secara lahir dan batin itu adalah kewajiban! Ada apa dengannya..

Padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid, begitu santun kepada orang-orang dan begitu patuh kedua orang tuanya. Bahkan terhadap aku pun semua?! Kewajiban dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun mengasari aku, berkat-kata keras kepadaku.

Bahkan Kak Arfan terlalu lembut kepadaku. Tetapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri setiap hari mendapat perlakuan darinya, begitu lembutnya, mulai menebuhkan rasa cintaku kepadanya, dan angin yang bertiup kencang

Dan membuatku perlahan-lahan melupakan masalaluku bersama Boby. Aku bahkan merindukannya tatkala Kak Arfan sedang tak di rumah, aku bahkan menyenangkan hatinya, dengan menggunakan apa-apa yang dia anjurkan lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah seharusnya.



Bersambung.........
Share it:

syair

Post A Comment: