-->

Mensos akan Tampung Anak-anak Rohingya di Pesantren Pulau Jawa, FPI: Jangan Dulu!

28 Mei, 2015, 20.21 WIB Last Updated 2015-05-28T13:21:40Z
LHOKSUKON - Menyikapi statemen Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang menyebutkan ada 12 pesantren di Jawa siap menampung anak-anak imigran Rohingnya, Front Pembela Islam (FPI) Aceh menyarankan agar jangan dulu membawa ke pondok pesantren di pulau Jawa.

"Jangan dulu! Tanya dulu ke tuan rumah yang telah berjasa menyelamatkan mereka dari ombak laut, yang dilain itu TNI AL  menolak mereka karena takut mengambil resiko, tapi nelayan Aceh tak peduli resiko apapun demi kemanusiaan tanpa peduli siapa dia dari mana dia, tapi karena kemausiaan masyararakat Aceh menerima mereka sebagai saudara," tulis Ketua FPI Aceh, Tgk Muslim At-Tahiri, MA, melalui pesan singkat kepada lintasatjeh.com, Kamis (28/5).

Lanjut FPI, mereka (para pengungsi Rohingya) tidak boleh dibawa dulu ke luar Aceh, tapi tanyakan dulu kepada pesantren-pesantren di Aceh. Apalagi di Aceh banyak pesantren dan ada juga pesantren yang kekurangan santri, akibat penduduk yang belum padat.

"Saran saya lebih tepat dipondokkan di pesantren di Aceh saja. Sebab di Jawa penduduknya sudah padat dan rata-rata pesantren kelebihan santri," ujar Tgk Muslim.

Maka dari itu, FPI meminta kepada Mensos agar mengambil kebijakan yang bijaksana, dan dimohon juga kepada semua pihak agar ikhlas membantu mereka dan jangan dibuat mereka sebagai ladang bisnis.

Dikutip dari Kompas.com, Menteri Sosial, Khofifah Indar Pawaransa, menyebutkan sejauh ini sudah ada 12 pondok pesantren di Indonesia yang siap menampung anak-anak pengungsi Rohingya, terutama anak-anak yang tidak memiliki sanak keluarga lagi atau berstatus yatim piatu. Sejumlah pondok pesantren itu tersebar di Jawa Timur dan Jawa Barat.

"Sejauh ini ada 12 pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Barat yang siap menampung anak-anak yatim piatu pengungsi Rohingya, seperti Pondok Pesantren di Malang, Pasuruhan, Bojonegoro, Sukabumi, dan lain sebagainya," ujarnya setelah menghadiri kegiatan Khataman di Pondok Pesantren Raudhatut Thullub Desa Prejegsari, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, Rabu (27/5/2015).

Dari hasil pendataan di lapangan, kata Khofifah, pengungsi Rohingnya yang anak-anak banyak yang menjadi yatim piatu dan terpisah dari keluarga besarnya sehingga dibutuhkan pemulihan secara psikososial dan perlu mendapatkan hak asuh karena hidup sebatang kara.

"Maka dari itu, perlu tempat yang memadai untuk menampung. Pesantren, kami kira merupakan tempat penampungan yang dirasa cukup kondusif dan efaktif bagi anak-anak tersebut," imbuhnya.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thullub Tempuran Kabupaten Magelang, Said Asrori, menyatakan bahwa pihaknya juga siap apabila diminta untuk menampung anak-anak pengungsi Rohingnya. Said menyebut, Pondok pesantren yang dikelolanya itu mampu menampung maksimal 500 santri.

"Kami siap menampung sekitar 50 orang (anak-anak pengungsi Rohingya)," tutur Said.[kompas/pin]
Komentar

Tampilkan

Terkini