-->

"Rakyat Aceh semakin Miskin, Keamanan semakin Tak Terkendali"

24 Mei, 2015, 17.43 WIB Last Updated 2015-05-24T10:43:59Z
BANDA ACEH - Pasca ditandatangani MoU Helsinki, tidak sedikit mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kecewa dengan pemerintahan Zikir (Zaini-Muzakir). Pasalnya, perekonomian rakyat Aceh saat ini jauh dari sejahtera, diperburuk lagi situasi keamanan yang semakin tak terkendali.

"Rakyat semakin miskin, keamanan semakin tak terkendali. Kalau kondisi di Aceh terus seperti ini lebih baik cabut kesepakatan damai dan keluarkan saja maklumat perang RI vs GAM. Biarkan saja semua pihak tidak aman, daripada yang aman hanya petingginya saja," tegas Teungku Sufaini Syekhi, seorang mantan GAM, kepada lintasatjeh.com, Ahad (24/5/2015).

Selama ini, GAM, mengharapkan Aceh Merdeka, tetapi kenyataannya sudah 32 tahun lebih berjuang dengan mengangkat senjata tak mendapatkan apa-apa. Justru malah banyak mengorbankan rakyat Aceh, dan berujung ke meja perundingan Helsinki.

Harusnya, damai Helsinki merupakan awal menuju merdeka, asalkan dilanjutkan dengan melakukan lobi-lobi politik mulai di tingkat lokal, nasional, dan internasional, agar cita-cita tersebut dapat terlaksana.

Namun menurut Syekhi, pemerintahan Zikir yang merupakan bagian perjuangan Aceh tidak melakukan hal itu. Malah yang terjadi menciptakan perpecahan masyarakat Aceh dengan cara-cara arogansi kepemimpinannya.

"Padahal, pemerintah mampu untuk mensejahterakan rakyat jika ada upaya karena di legislatif sudah 50 persen dikuasai oleh GAM," ujarnya.

Syekhi khawatir, ketika para pemimpin Aceh tidak mampu merangkul semua elemen maka otomatis akan menimbulkan kekecewaan para pejuang Aceh khususnya para TNA yang hari ini kocar-kacir tidak ada tanggung jawab sama sekali dari komandannya yang sekarang sudah hidup menjadi pejabat.

"Padahal Aceh memiliki modal cukup untuk merdeka ketika ekonomi kuat, politik kuat, finansial kuat dan memiliki serdadu yang kuat juga, akan tetapi para petinggi GAM  lupa diri, mabuk kepayang, setelah mareka mendapat jabatan," ujarnya.

Untuk itu, mantan GAM ini menyerukan kepada seluruh bangsa Aceh agar jangan terlena dengan upaya pembodohan yang dilakukan oleh beberapa orang petinggi GAM, khususnya yang sudah menjadi pejabat.  Dan apabila Pemerintah Zikir tidak sanggup memimpin agar lengser saja dan biar digantikan oleh orang-orang yang benar-benar mampu menyatukan rakyat Aceh serta bisa melakukan program pro rakyat karena Aceh bukan hanya milik para penguasa.

Dengan demikian masyarakat Aceh ke depan harus cerdas dalam memilih pemimpin, karena apabila Aceh salah dalam memilih pemimpin dikhawatirkan rakyatnya akan lebih sengsara dari negara Somalia.[ar]
Komentar

Tampilkan

Terkini