-->

Humanika: Menteri ESDM Bagaikan Pendekar Dewa Mabuk

19 November, 2015, 23.06 WIB Last Updated 2015-11-19T16:06:50Z
Sekjen Humanika, Sya'roni. Foto: IST
JAKARTA - Bagaikan Pendekar Dewa Mabuk, itulah perumpaan yang pas buat Menteri ESDM Sudirman Said melabrak pihak-pihak yang dianggapnya pencari rente. Imbasnya, kata Sekjen Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika), Sya'roni, Ketua DPR Setya Novanto menjadi korbannya karena dianggap meminta saham kepada PT Freeport dengan mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden.

Namun, Sya'roni mempertanyakan apakah kebijakan Sudirman Said sudah menguntungkan rakyat Indonesia? Sebagai preview, kebijakan yang sudah dilakukan Sudirman Said misalnya membubarkan Petral dan menghidupkan kembali ISC, dua kali mengizinkan Freeport mengekspor kondensat meskipun belum membangun smelter, dan mempercepat pembahasan perpanjangan kontrak kepada Freeport padahal semestinya baru dibahas pada 2019.

Cerita kemudian, ujar Sya'roni, munculah seorang menteri secara heroik melaporkan anggota DPR ke MKD dengan membawa transkrip dan kemudian disusul dengan membawa rekaman.

Dari cerita tersebut, apakah berimbas kepada rakyat? Rakyat tidak dapat apa-apa. Seperti halnya dalam kasus pembubaran Petral dimana Sudirman Said mengatakan dengan ISC diharapkan Pertamina mendapatkan harga minyak yang terbaik. Kenyataannya, meskipun harga minyak dunia terus menurun, rakyat masih dipaksa menerima harga yang BBM yang tinggi.

"Jadi, hingga sekarang rakyat belum menikmati hasil kinerja Sudirman Said. Karena Sudirman Said bisanya hanya memproduksi hal-hal yang sifatnya bombastis. Namun gagal memberikan efek kesejahteraan kepada rakyat," ujar Sya'roni kepada lintasatjeh.com, Kamis (19/11/2015).

Bahkan, bisa jadi manuvernya membeberkan pertemuan Setya Novanto dengan petinggi Freeport lebih didasari perasaan ketakutan "lahannya" diserobot orang. Bukan untuk membela kepentingan bangsa Indonesia sebagaimana yang digembar-gemborkannya selama ini.

Kalau mau dianggap pahlawan, Sudirman Said semestinya membuka poin-poin negosiasi dengan Freeport. Sejauhmana negosiasinya itu akan menguntungkan rakyat. Kalau serba tertutup begini dikhawatirkan akan terjadi deal-deal tertentu yang tidak menguntungkan rakyat Indonesia.[pin]
Komentar

Tampilkan

Terkini