BANDA ACEH - Aktifis Paguyuban Aceh, Sayyid Almahdaly, sangat
menyayangkan atas sikap pejabat Pemerintah yang mempertontonkan statement
'pungoe' di hadapan publik. “Kekhawatiran kita nantinya ini akan berimbas pada
generasi-generasi muda secara tidak langsung, bahasa politik tidak semestinya
sampai seperti itu, bukankah berbahasa santun adalah ciri khas para-para
pemimpin guna terwujudnya contoh yang baik dan panutan bagi masyarakat,”
katanya kepada lintasatjeh.com, Rabu (18/11/2015).
Ia, selaku pemuda sangat menyayangkan
jika ada statement-statement yang tidak santun seperti itu. Pungoe itu berarti
gila, apakah masyarakat sedang digilakan hari ini? Ada apa, mengapa seperti ini
para-pengambil kebijakan di Aceh?
Sedangkan kita, ujarnya, baru
saja bangkit dari keterpurukan secara bersama-sama. Jikapun ada persoalan,
jangan sampai dipertontonkan secara blak-blakan seperti ini juga.
Menurutnya, semua hal tentu ada
pertimbangan, dan yang pasti masyarakat Aceh tidak seharusnya menyaksikan dua
motor penggerak pembangunan ini berperang statement seperti itu, karena mereka
(rakyat) telah memberikan kepercayaan itu hanya untuk memperjuangkan
kesejahteraannya dengan sebaik-baik mungkin tanpa alasan apapun.
Dirinya pun berharap, agar para
pejabat pemerintah untuk lebih bisa mengontrol diri, ini bukan tentang siapa
yang "pungoe", tapi ini adalah tentang memberikan contoh yang baik
kepada rakyat, serta menjadi panutan bagi rakyat selaku ulil amri.
Kami sebagai pemuda, tegas dia,
menginginkan agar pemerintah fokus saja dalam perannya masing-masing, “Kami
hanya ingin menyaksikan kerja keras dan bukti nyata dari pemerintah untuk
rakyat, dan atas berita-berita yang telah kami lihat itu, kami tidak ingin
melihatnya lagi. Yang kami tau, masih banyak rakyat yang belum merasakan
indahnya otonomi khusus dan 'perdamaian' secara sosiologis. Sementara
pemerintah saling berperang statement, tanpa melihat kondisi real tersebut.”[red]
