![]() |
| IST |
JAKARTA - Perekonomian dunia saat ini seperti dikendalikan
korporasi. Mereka memainkan skenario untuk menguasai sumber-sumber daya alam di
berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Begitu dikatakan
Koordinator Pusat Front Nasionalisasi Freeport (FNF), Ide Bagus Arief
dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Rabu (9/12).
Hal yang sama
diutarakannya saat berunjukrasa di depan kantor Freeport, Kuningan,
Jakarta Selatan, kemarin (Selasa, 7/12).
Dia
menduga, fenomena tersebut terjadi di Indonesia dengan adanya Freeport.
Pemerintah, kata dia, tidak berdaya dengan keinginan Freeport untuk
memperpanjang kontrak.
"Situasi
negara kita sekarang mundur kembali pada masa penjajahan. Terbukti dengan
adanya intervensi dari modal asing. Negara kita sekarang sudah sepenuhnya
dikolonisasi (oleh Freeport)," kata Ide.
Dia menjelaskan,
eksploitasi emas oleh Freeport di tanah Papua sejak tahun 1967 lampau hanya
memberi segelintir keuntungan saja bagi rakyat Papua khususnya dan rakyat
Indonesia.
"Sudah
48 tahun PT Freeport Indonesia merampok harta dan merusak bumi Papua. Dari
total produksi PT Freeport Indonesia, Indonesia hanya mendapatkan keuntungan
dari kepemilikan saham 9 persen dan royalti sebesar 1 persen," ujar dia.
Ide
tegaskan, pertambangan emas dan tembaga Freeport jelas tidak memberi kontribusi
bagi kesejahteraan masyarakat Papua. "Justru Provinsi
Papua menjadi provinsi yang miskin dan terbelakang," katanya.
Soal
aparat, Ide jelaskan, keberadaannya hanya menguntungkan kepentingan
Freeport, bukan masyarakat Papua.
"Militer di sana
menjaga beroperasinya tambang emas dan tembaga yang dilakukan Freeport atas
tanah Papua," demikian Ide.
Dalam
kesempatan itu, elemen gerakan pemuda dan mahasiswa yang terdiri
aktivis Front Perjuangan Pemuda Indonesia dan beberapa aliansi mahasiswa
se-Jakarta menggulirkan isu nasionalisasi Freeport di tengah kisruh politik
Mahkamah Kehormatan Dewan. [RMOL]



.jpg)



