-->

Curhatan dr Indra Sugiarno, Dokter Tumbal Vaksin Palsu Rs Harapan Bunda

21 Juli, 2016, 16.58 WIB Last Updated 2016-07-21T09:59:59Z
dr. Indra Sugiarno (IST)
JAKARTA - Tersangka kasus vaksin palsu, dr. Indra Sugiarno ditahan oleh Bareskrim Polri. Padahal dokter anak yang bekerja Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur itu juga memberikan vakisnasi pada anak dan cucunya sendiri.

Berawal ketika terjadi kelangkaan vaksin pada periode Februari 2016-Juni 2016 seorang medical representatif dari PBF (Pedagang Besar Farmasi)  yang bonafide menawarkan  beberapa vaksin DPT (Pediacel). Medical representatif tersebut dapat meyakinkannya bahwa vaksin yang dibeli itu asli. Dr Indra memilih menggunakannya agar segera bisa memenuhi kebutuhan pasiennya.

Sampai saat ini keluarga pasien terus berusaha menghubungi dr Indra via telefon, sms, Whatsapp, dan Facebook karena masih membutuhkan kehadirannya. 

Di bawah ini surat dari Dini Kusdiani, istri yang mencintainya yang dimuat di akun facebook Eva Sridiana, Rabu (20/7/2016), dan dikutip Bergelora.com di Jakarta.

Bismilahirahmanirahim

Assalamualaikum wr wb.

Pertama-tama sebagai istri, saya atas nama keluarga, sekali lagi, ingin mengucapkan rasa prihatin dan duka cita yang mendalam atas musibah besar yang terjadi pada kita semua. Yang menyangkut harga diri, profesi, dan yang paling utama adalah pada anak-anak, bayi, dan balita di Indonesia terutama yang terindikasi terkena vaksin palsu.

Terkait banyaknya pertanyaan dari pasien2 Dr Indra, di sini sebagai keluarga saya ingin kembali menyampaikan, bahwa Dr Indra tidak pernah bermaksud untuk melukai pasien-pasiennya. Karena sesuai dengan apa yang diyakininya dan kematangan pribadi yang sudah melewati begitu banyak gelombang hidup, Dr Indra punya komitmen dan visi bahwa uang bukanlah segalanya.

Sebagai dokter anak, bagi Dr Indra dan keluarganya. Penghasilan dari jasa praktek dokter, jasa rawat inap, dan jasa tindakan sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidup sehari-hari.

Sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya yaitu sebagai dokter anak yang telah menjalani Fellowship Perinatolog FKUI RSCM, terkadang mengharuskannya pergi jauh ke pelosok sebagai konsultan yang dikoordinir oleh Kementrian Kesehatan (Direktorat Kesehatan Anak) bersama UNICEF dan WHO dalam kaitannya dengan kesehatan bayi baru lahir. Concern beliau terhadap bayi dan anak-anak Indonesia, membuat beliau sampai rela kehilangan jasa praktek dokternya dikarenakan harus menjadi konsultan di daerah pelosok tersebut selama 5-7 hari.

Rasa cinta beliau terhadap bayi-bayi di Indonesia, disalurkan ketika beliau menjabat sebagai Sekertaris UKK Perinatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) selama 2 periode. Dan beberapa waktu sebelumnya, pernah menjabat sebagai Ketua Satgas Perlindungan Anak Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang sangat concern terhadap pemenuhan hak-hak anak untuk tumbuh kembang optimal anak.

Dalam hubungannya dengan posisi beliau sebagai staf forensik FKUI RSCM, beliau menaruh perhatian besar terhadap perlindungan anak dari kekerasan dan kejahatan. Dr Indra juga sering diundang banyak forum baik nasional maupun internasional dalam kaitannya dengan pengetahuan beliau tentang ilmu kesehatan anak. Bahkan selama beberapa tahun, beliau menjadi relawan yang berpraktek dokter spesialis anak  di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma  Dompet Dhuafa melayani pasien-pasien yang tidak mampu.

Dari latar belakang yang saya sampaikan tersebut, saya sebagai istri hanya ingin menggambarkan bahwa komitmen hidup dan visi beliau adalah menggunakan segala potensi yang dimilikinya untuk menjadi seorang yang berdaya guna untuk bangsa ini. Dengan segala kiprah beliau di bidang ilmu kesehatan anak tersebut, beliau ingin anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang tumbuh sehat, cerdas, dan mampu menghadapi segala tantangan zaman.

Oleh karena itu, tuduhan terhadap keterlibatan Dr Indra di dalam kasus vaksin palsu, apalagi sebagai pengedar sangat jauh dari bayangan kami semua terutama Dr Indra pribadi dan keluarganya. Hal  itu bagi kami sekeluarganya dan Dr Indra sendiri memandangnya sebagai suatu fitnah yang keji karena jelas bertentangan dengan visi dan misi keluarga kami. Tidak pernah sedikit pun terlintas niat jahat untuk melukai pasien-pasien beliau yang amat sangat dicintainya.

Terkait perkara kasus vaksin palsu yang kini menimpanya, Dr Indra dan keluarganya meyakini bahwa beliau tidak punya itikad atau niat untuk terlibat. Lebih dikarenakan dorongan dan rasa cinta beliau untuk memenuhi kebutuhan pasien-pasiennya akan vaksin yang mengalami kelangkaan selama hampir 9 bulan sampai pertengahan Juni 2016 kemarin, beliau mengupayakan apa yang beliau rasa harus dipenuhi untuk pasien-pasiennya tersebut.

Dibalik tindakan beliau yang ingin mengupayakan apa yang terbaik untuk pasien-pasiennya, Dr Indra punya pengalaman. Ketika beliau berpraktek di RS Sentra Medika Cimanggis. Ada bayi yang mengalami radang paru paru berat karena pertusis sehingga harus dirawat di ruang ICU anak karena belum  mendapat imunisasi DPT.

Sehingga pada saat seorang medical representatif dari PBF (Pedagang Besar Farmasi)  yang bonafide menawarkan  beberapa vaksin DPT (Pediacel) di periode Februari 2016-Juni 2016 ketika terjadi kelangkaan, medical representatif tersebut dapat meyakinkan beliau bahwa vaksin yang dibeli itu asli. Dr Indra memilih menggunakannya.

Pikiran dan hati beliau saat ini masih selalu dan akan selalu untuk anak-anak Indonesia, khususnya pasien-pasien yang saat ini masih banyak mendukung dan membutuhkannya. Terutama pasien-pasien bayi baru lahir yang bermasalah seperti bayi dengan berat rendah, lahir dengan kelainan bawaan, dan bayi-bayi yang baru lahir dengan kondisi bermasalah. Hal itu masih terus menjadi beban pikirannya sampai detik ini.

Beban pikirannya bertambah bila mengingat pasien-pasiennya yang beliau khawatirkan terpapar vaksin yang diduga palsu, termasuk yang disuntikan kepada anak dan cucu-cucunya. Beliau merasa tidak berdaya karena tidak dapat melakukan pendampingan kepada pasien-pasien tersebut. Karena saat ini beliau sedang berada dalam tahanan Bareskrim Mabes Polri dimana beliau tidak dapat diakses oleh pasien-pasiennya yang sampai saat ini terus berusaha menghubungi beliau via telefon, sms, Whatsapp, dan Facebook karena masih membutuhkan kehadirannya.  Namun karena kondisi beliau, alat komunikasi yang dapat berhubungan dengan pasien dikelola oleh saya istrinya yang hanya dapat memberikan bantuan moril dan perasaan ingin saling menguatkan satu sama lain.

Sebenarnya ketika kasus vaksin palsu mencuat, Dokter Indra langsung menghubungi salah satu pengurus IDAI untuk melakukan penelitian Survey dengan metoda yang direkomendasikan WHO (30 by 7) untuk memetakan suatu persoalan di tingkat nasional. Penelitiaan tersebut bertujuan untuk memetakan imunitas atau kekebalan bayi terhadap penyakit DPT, agar dapat diusulkan oleh IDAI kepada Kemenkes dan BPOM untuk menghindari kericuhan secara nasional seperti yang terjadi sekarang ini. Yang telah menghancurkan perasaan dan nurani kita semua sebagai bangsa. Dan kami semua jajaran keluarga merasakan bahwa ini bukanlah hanya sekedar bencana keluarga semata, tapi merupakan bencana nasional yang harus menjadi keprihatinan kita semua dan dicarikan solusinya bersama-sama.

Akhir kata saya sebagai istrinya dan juga keluarga besarnya masih meyakini bahwa beliau adalah aset bangsa ini. Kompetensi dan kemampuan yang dimilikinya masih sangat dibutuhkan. Regulasi, kebijakan, dan pengawasan yang menjadi tanggung jawab badan-badan terkait diharapkan mampu membuat aset-aset bangsa seperti dokter-dokter anak diseluruh Indonesia agar dapat bekerja dengan baik sesuai dengan kapasitasnya.

Hikmah yang didapat dari ini semua menurut Dr Indra adalah bahwa peristiwa ini merupakan suatu ujian yang memang harus dilewatinya yang dapat meningkatkan derajat beliau pribadi menjadi manusia yang lebih mulia.

Mohon doa agar kita semua selalu diberikan kekuatan dan perlindungan Allah SWT.

Dini Kusdiani

Menanggapi kriminalisasi pada petugas kesehatan Pengurus Nasional Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Roy Pangharapan mengharapkan agar pihak Polri tidak menutupi keterlibatan perusahaan obat Pfizer, milik Amerika Serikat dengan mengorbankan dokter Indonesia.

“Jenderal Tito harus berani memeriksa perusahaan obat yang pegawainya terlibat menawar-nawarkan vaksin palsu kepada para dokter. Karena dokterpun tidak tahu kalau itu vaksin palsu,” ujarnya.[Bergelora.com]
Komentar

Tampilkan

Terkini