-->

Kadisdik Aceh Tamiang: Beda, Membaca Lancar dan Paham Bacaan

07 September, 2016, 19.06 WIB Last Updated 2016-09-07T12:07:32Z
IST
ACEH TAMIANG - Seseorang tidak akan mampu menulis (tulisan ilmiah) jika ia tidak mampu memahami isi bacaan yang  dibaca. Orang yang lebih dahulu mengerti apa yang dibacanya, biasa mereka lebih mampu untuk menulis, apalagi menulis tulisan ilmiah dan ini menjadi tantangan bagi guru untuk mampu menghasilkan karya-karya ilmiah.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tamiang, Drs. Ikhwannuddin saat membuka Pelatihan Tingkat Sekolah Modul III untuk guru kelas awal jenjang SD/MI bagi sekolah mitra USAID Prioritas di Grand Arya Hotel, Selasa (6/9/2016) kemarin.

Menurut Ikhwanuddin, salah satu usaha agar siswa kita dapat membaca mengerti, USAID Prioritas bersama para ahli merancang modul III. “Menurut pandangan saya, memang terdapat perbedaan konsep mengajarkan siswa dibandingkan cara kita terdahulu. Model pelatihan yang dikembangkan ini membiasakan siswa untuk terbiasa membaca mengerti bukan hanya lancar membaca,” jelasnya. 

Lebih lanjut, ia katakan membaca lancar dengan membaca mengerti adalah hal yang berbeda. Kalau membaca mengerti, harus mengetahui dan memahami apa yang dibaca. Perbedaan lainnya dari metode tersebut dengan metode  terdahulu ialah siswa akan belajar membaca dengan menggunakan dua format, yaitu dibacakan persis dan sesuai dengan bahan bacaan. Kedua, siswa diberikan peluang untuk inprovisasi yaitu mengembangkan bacaan dari apa yang menjadi bahan bacaan, tetapi tidak keluar dari kerangka bacaan atau tema dari bahan bacaan tersebut.

“Siswa juga diajak untuk mengambil kesimpulan dari apa yang dia bacakan. Kalau seorang siswa sudah terbiasa seperti itu berarti nalarnya sudah mulai berkembang. Hal tersebut dapat dikatakan siswa tersebut sudah dapat memahami apa yang dibaca,” tambah Kadisdik Tamiang. 

Ikhwannuddin melanjutkan, jika metode tersebut dapat diterapkan, maka ia yakin metode ini  menjadi salah satu strategi untuk mengubah kebiasaan siswa yang sebelumnya kurang menarik membaca, menjadi lebih menarik untuk membaca, dikarenakan dapat memahami isi bacaan. Untuk itu kita minta kepada sekolah-sekolah untuk menerapkan program tersebut.

Sementara itu, Koordinator USAID Prioritas Aceh Tamiang, Rahmi Jafar, pada saat pembukaan mengatakan harapannya kepada peserta dari guru kelas awal, setelah mengikuti pelatihan ini dapat mensosialisasikan kepada guru kelas tinggi.

“Karena buku berjenjang ini tidak hanya dapat digunakan untuk siswa kelas awal saja,” demikian katanya.

Pelatihan tersebut akan berlangsung selama tiga hari hingga  8 September 2016, menghadirkan fasilitator provinsi dan kabupaten. Kegiatan ini diikuti oleh 17 sekolah/madrasah mitra USAID Priroitas di Aceh Tamiang dengan jumlah peserta 72 orang. Pada kegiatan ini juga dilakukan penyerahan hibah sebanyak  10.404 eksemplar buku seluruh sekolah mitra. Tiap sekolah akan menerima sebanyak 612 eksemplar buku yang terdiri dari 75 judul.[Rls]
Komentar

Tampilkan

Terkini