-->

Mengapa Aku Menulis? Kekuatan Sebuah Tulisan Sangat Dasyat

14 Januari, 2021, 17.15 WIB Last Updated 2021-01-14T10:15:30Z

MENULIS berarti menyimpan apa yang telah kita baca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan tulisan, kita bisa berdakwah (menyebarkan kebenaran), mengajari, menyebarkan ide dan pemikiran, memberi tanggapan, dll. Sebaliknya, dengan tulisan seseorang bisa mem-provokasi, menghina, menghasut, memfitnah, dan berbagai kegiatan merusak lainnya.


Inilah sekilas gambaran singkat dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa membawa kepada kebangkitan sebuah peradaban, atau sebaliknya kepada kehancuran moral dan semua tatanan kehidupan umat manusia lainnya.


Kekuatan ”Menulis” dalam Sejarah Islam


Menulis memiliki peran yang sangat urgen dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam. Semua ulama yang menjadi arsitek peradaban dan kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Barat yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam masa silam.


Dalam sejarah Islam, akan kita dapati pakar-pakar keilmauan mayoritas adalah para ulama. Kedokteran, geografi, oftik, kartografi, farmasi, kimia, astronomi, matematika, dan yang lainnya. Patut untuk di banggakan, ketika Eropa di abad pertengahan hanya memiliki seorang jenius bernama Leonardo da Vinci yang mumpuni dalam beberapa bidang keilmuan, ternyata umat Islam memiliki puluhan tokoh yang memiliki multiple intelligence. 


Sebagai contoh, kejeniusan Ibnu Sina di bidang kedokteran menghasilkan karya monumental Al-Qanun Fi Ath-Thibbi, Asy-Syifa dan yang lainnya. Ibnu Rusyd yang faham dengan sangat baik filsafat Yunani, sehingga mampu memberikan koreksi dan catatan kaki atas kekeliruan yang ada didalam buku mereka ternyata juga seorang faqih yang dari tangannya lahir Bidayah-Al-Mujtahid, sebuah rujukan perbandingan madzhab dalam ilmu fiqih yang sampai sekarang tetap diperhitungkan. Belum lagi Al-Khawarizmi pencipta Al-Jabar (ilmu ukur/Matematika) yang fenomenal, Al-Haitsam Bapak ”optik” sekaligus penemu Kamera Analog. Al-Idrisi bapak kartografi dari pulau Sisilia. Al-Biruni, Ibnu Khaldun, dan tokoh-tokoh Islam lainnya.


Galileo yang terkenal dengan teleskopnya ternyata kalah awal oleh ulama-ulama di Baghdad yang telah lebih dahulu menciptakan observatorium untuk mengamati pergerakan dan fenomena bintang- bintang. Al-kohol, al-kalin, sinus, kosinus, tangent, azimuth, natir dan istilah-istilah lain dalam berbagai disiplin ilmu lahir dari rahim keilmuan kaum muslimin. Begitu pula dibidang Fiqih, Hadits, Tafsir, Ilmu Kalam, dan sebagainya. Semua itu hadir karena mereka memegang teguh tradisi keilmuan, yaitu menulis disamping tradisi membaca pada sisi yang lain.


Sampai disini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa menjadi senjata melawan kezaliman ketika meriam telah dihancurkan, ketika senapan dan mesiu telah tenggelam dalam lautan.


Penulis: Khairul Umam (Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Malikussaleh)

Komentar

Tampilkan

Terkini