-->

Iklan

RENUNGAN: Ibadah Kurban Mendidik Manusia untuk Bersyukur

14 Juli, 2021, 12.50 WIB Last Updated 2021-07-14T14:06:41Z

 Ilustrasi

Dalam perspektif surah Al-Kautsar, kurban merupakan salah satu ekspresi syukur. Seperti diisyaratkan ayat kedua surah tersebut, kurban disejajarkan dengan shalat yang dilakukan untuk mewujudkan rasa terima kasih manusia atas segala ketetapan baik dan buruk yang telah Allah berikan kepadanya.

Praktik kurban juga secara tersirat memperlihatkan sebuah pengorbanan sebagai ikrar pengabdian kepada-Nya. Sedangkan secara syariat, kurban itu diwujudkan dalam bentuk penyembelihan hewan yang dagingnya dibagikan kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya.

Dalam kurban, seseorang sejatinya tidak hanya tulus menyembelih hewan secara fisik, tapi juga menyembelih sifat-sifat hewani yang melekat pada diri para pelakunya. Sifat kebinatangan yang kerap muncul dalam bentuk penindasan hak-hak asasi terhadap sesamanya. 

Tidak hanya pada penguasa yang dipandang memiliki potensi lebih besar menindas rakyat, tapi juga pada rakyat yang sering tidak sanggup mengendalikan kebebasan sehingga berakibat lahirnya penindasan pada kekuasaan.

Secara historis, seperti tersirat dalam surah Al-Kautsar, kurban diperintahkan untuk mensyukuri nikmat. Padahal, ketika wahyu ini diterima, Baginda Nabi Muhammad SAW tengah dalam keadaan duka. Caci maki dan tekanan fisik ataupun mental yang dilakukan orang-orang kafir Makkah saat itu datang bertubi-tubi.

Pendeknya, Nabi beserta para sahabatnya selama tinggal di Makkah hampir tidak pernah merasakan suasana aman dalam hidupnya. Bahkan puncaknya, Nabi mendapat ancaman untuk dihabisi baik raga maupun nyawanya.

Tapi, di tengah duka yang amat melukai Nabi beserta para sahabatnya itu, Allah justru memerintahkan untuk bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah limpahkan kepadanya seolah semua penderitaan itu adalah nikmat. Inilah suasana yang melatari turunnya tiga ayat Alquran yang kemudian menjadi salah satu surah, yaitu surah Al-Kautsar. 

Ketika Nabi Muhammad tengah terjepit di antara impitan caci maki dan ancaman, Allah mengatakan, "Sesungguhnya telah Aku berikan kepadamu nikmat yang amat banyak." (QS Al-Kautsar: 1).

Sesungguhnya penderitaan adalah salah satu ujian kenaikan kelas. Tanpa ujian biasanya tidak ada kenaikan kelas. Hanya saja masih jarang orang menyadari bahwa musibah dan penderitaan adalah ujian kenaikan kelas. 

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Intinya, ketika kita mendapatkan musibah dan penderitaan, maka yakinilah bahwa itu terjadi karena kehendak Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Tentunya Allah tidak akan memberikan cobaan yang berat di luar kemampuan para hambanya. Kewajiban kita sebagai manusia adalah hadapi segala cobaan dengan bersabar, rida, dan menerima ketetapan dari Allah tersebut.

Renungan Menyambut Hari Raya Kurban 1442 Hijriah/2021 Masehi 

Jika kita merenung dan berkontemplasi sejenak, maka memang benar bahwa di balik setiap musibah dan penderitaan selalu ada rahasia Allah yang sulit ditebak.

Suatu ketika Nabi Yusuf berdo'a: "Rab al-sijn ahbbu ilaiyya" (Ya Allah penjara aku lebih sukai) (Q.S. Yusuf/12:33). Ini diungkapkan ketika ia dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Ia memilih hidup menderita di ruang gelap dan sempitnya penjara ketimbang gemerlapnya istana yang ditawarkan kepadanya. 

Ternyata bukan hanya Nabi Yusuf, sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia memiliki daftar panjang nama-nama yang rela menderita demi untuk meraih kemerdekaan untuk anak-cucunya. Mungkin kita pun pernah mengalami dalam kadar tertentu. 

Ini membuktikan bahwa ternyata penderitaan tidak selamanya menyakitkan tetapi kadang dirasa lebih asyik, karena boleh jadi merasa sedang bersama dengan Allah. Banyak orang yang bukan Nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenangan batinnya, ketimbang bahagia secara fisik tetapi menderita secara batin.

Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidaknyamanan bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, jika suasana batin aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan. 

Penyakit yang mendera Nabi Ayyub sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya dibuang di sebuah gua di pegunungan di luar perkampungan, ia tiba-tiba mengatakan kepada para belatung di sekujur tubuhnya, kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkanmu tetapi kalian tetap betah di tubuhku. Sekarang kalian bersenang-senanglah, karena ternyata kalian adalah sahabat setiaku. Satu-satunya yang bisa menemaniku di kegelapan gua ini hanya kalian. Ayub tidak lagi merasa sakit dari gigitan belatung-belatung di tubuhnya.

Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan hanyalah masalah psikologis. Musibah bisa diajak berkompromi. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik lebih tinggi dari tempat semula. Banyak contoh dalam kehidupan kita musibah dijadikan sebagai hikmah untuk lebih maju, kreatif, dan berhasil. 

Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit. Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera. Nikmati penderitaan itu, niscaya kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan. Demikian pendapat para ahli anastesia.

Sesungguhnya penderitaan atau musibah adalah 'Surat Cinta dari Allah'. 

Allah merindukan hamba-Nya tetapi undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan tidak digubris, maka Allah mengubah surat undangannya dalam bentuk musibah. 

Musibah adalah ujian keburukan (balaun sayyiah) tetapi mengangkat martabat kemanusiaan. Ada juga ujian kebaikan (balaun hasanah) tetapi lebih sulit untuk dilulusi hamba-Nya, sehingga lebih banyak orang gugur dari ujian kemewahan daripada ujian musibah.

Jika orang ditimpa musibah maka yang paling pertama dipanggil biasanya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Akan tetapi jika orang diuji dengan kemewahan atau pangkat, dan jabatan, yang paling sering dihubungi, di SMS adalah makhluk Allah, berupa orang yang disayanginya. Tidak jarang di antara mereka adalah bukan muhrimnya dan sering terjadi dosa dan maksiyat karenanya. Dengan demikian, musibah dan penderitaan tidak selamanya negatif. Ingat pesan Nabi: "Jika Allah menyayangi hambanya maka siksaan Nya didatangkan lebih awal di dunia supaya di akhirat nanti lunas. Subhanallah 

Selamat menyambut hari raya Idul Adha1442 Hijriah/2021 Masehi dengan penuh hikmah. Semoga akan semakin memperkuat keimanan dan rasa kemanusiaan pada diri kita.

*Disarikan dari berbagai sumber

Komentar

Tampilkan

Terkini