-->

Kemerdekaan yang Tangguh

26 Agustus, 2021, 04.06 WIB Last Updated 2021-08-25T21:06:22Z
TEPAT di Hari Selasa lalu pada tanggal 17 Agustus 2021, penduduk Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-76. Berbagai macam cara dilakukan setiap individu dalam merayakan dalam masa pandemi ini. Terlebih begitu banyak ucapan dan selamat yang bersorakan di media TV, Radio, juga Medsos  (Instagram, Facebook, Tiktok, Whatsapp) dan media-madia lainnya.

Bahkan sebagai rasa empati dan semangat kemerdekaan di setiap pinggir jalan, toko, mall, rumah hingga masyarakat bisa turut andil untuk dihiasi lambang Bendera Merah Putih. Semangat yang membara mengatakan bahwa Indonesia telah merdeka selama 76 tahun lamanya. Dan harapan-harapan yang tak kunjung tertunaikan harus menjadi salah satu pijakan demi masa depan yang lebih cerah.

Sebagaimana harapan yang dilontarkan oleh Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono di acara  HUT Ke-76 RI yang mengusung tema 'Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh'.  Ada pesan optimisme di balik tema tersebut. Tema ini berisi pesan tentang ketangguhan dan semangat pantang menyerah untuk terus maju menyongsong masa depan. Hal itu digambarkan dalam komposisi dinamis antara bentuk geometris yang sederhana tetapi kokoh dalam perpaduan bergeliat dengan energi yang lincah. (detik.com, 17/06/2021).

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Tidak hanya harapan dan cita-cita yang tinggi untuk masa depan yang lebih baik untuk RI, sebagai rasa wujud penghormatan yang paling baik adalah dengan melakukan peringatan detik-detik pembacaan proklamasi. Peringatan yang  selalu dilaksanakan serentak di seluruh wilayah indonesia dan berpusat di istana kepresidenan Jakarta.

Menteri Sekretaris Negara, Pratikno dalam video 28 Juli 2021 di chanel resmi sekretaris presiden mengajak seluruh masyarakat untuk menghentikan kegiatan sejenak dan mengambil sikap sempurna pada upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI Selasa (17/08/2021) pukul 10.17 WIB. Ini untuk menjaga kekhidmatan acara dan menghormati peringatan tersebut. (Merdeka.com, 15/8/2021)

Kemerdekaan sangatlah penting dimiliki sebuah negara dan rakyatnya.  Kemerdekaan hak segala individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara bahkan peradaban manusia. Penjajahan di dunia harus di hapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan, perikeadilan dan nilai-nilai kemuliaan manusia. Kalimat tersebut sebagian dari poin teks pancasila.

Kemerdekaan tanpa makna

Kemerdekaan Indonesia adalah rahmat dan nikmat Allah SWT atas perjuangan dan pengiorbanan harta, darah dan nyawa para pejuang juga seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan merupakan amanah untuk dimanfaatkan dan digunakan untuk meraih kembali kedaulatan negara, kehormatan, keadilan, kesejahteraan dan kemuliaan sebagai manusia dan hamba Allah.

Sudah 76 tahun Bangsa Indonesia merdeka, namun belum bisa membebaskan diri dari dominasi asing yang mencengkram negeri ini. Berbagai upaya dan cara yang dilakukan penguasa bahkan rakyat dan pemuda pemudi ikut andil dalam mengokohkan kemerdekaan ini agar negeri ini bisa tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.

Namun pada faktanya upaya tersebut seakan tidaklah bermakna apapun. Eksploitasi atas negeri ini dan penduduknya masih begitu terasa. Layaknya zaman penjajahan dulu atau bahkan lebih dari itu. Saat ini rakyat terbebani beragam pajak  yang mungkin malah lebih banyak jumlahnya dari zaman penjajahan dulu. Kekayaan alam negeri ini juga belum dirasakan hasilnya untuk kesejahteraan seluruh rakyat, hanya segelintir saja yang merasakan debu-debunya. Sebagian besar masih dikuasai swasta asing atau elit yang rakus di negeri ini.

Berbagai kebijakan juga banyak dipengaruhi (didikte) oleh asing (oligarki). Kekayaan negeri ini juga masih banyak yang mengalir kepada pihak asing, segelintir konglomerat atau sekelompok kecil yang diistilahkan sebagai oligarki. Semua ini dampak dari sistem Kapitalis-Sekuler.

Jika ada perubahan sistemik dengan sistem islam, maka akan membawa pada masyarakat yang tangguh dan tumbuh menjadi tonggak peradaban. Masyarakatnya tidak akan lagi menjadi budak di negerinya sendiri. Masyarakatnya akan memperoleh kemerdekaan hakiki yang terbebas penjajahan fisik maupun pemikiran.

Wallahua’lam Bishawab

Penulis: Risnawati, S.Pd (Pemerhati Masalah Sosial)

*/ Tulisan opini yang ditayangkan, sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis. 
Komentar

Tampilkan

Terkini