-->

HMMI: Insiden Tolikara Mencoreng Ideologi Indonesia

23 Juli, 2015, 12.21 WIB Last Updated 2015-07-23T05:22:08Z
LHOKSEUMAWE - Koordinator Daerah Aceh Himpunan Mahasiswa Manajemen Indonesia (HMMI) Ichsan Nanda mengatakan, insiden kerusuhan dan pembakaran mesjid di Tolikara Papua merupakan hal yang memalukan bagi Indonesia.

Pasalnya, menjamin umat muslim beribadah menurut agamanya merupakan implementasi dari Ideologi Indonesia pada sila pertama yang harus dipenuhi.

“Jika pemerintah dan masyarakat Papua masih menganggap Pancasila sebagai Ideologi Negara Indonesia, maka berikan hak umat muslim di Tolikara dan daerah Papua lainnya, agar mereka bebas beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya sesuai amanat Pancasila dan undang-undang,” papar Ichsan Nanda, kepada lintasatjeh.com, Kamis (23/7/2015).

Menurutnya, hidup bertoleransi sudah berlangsung dari ratusan tahun lalu di seluruh pelosok Indonesia. Baik dalam keberagaman agama, suku maupun bahasa, apalagi menghormati dan menghargai masyarakat untuk beribadah sesuai ajaran agamanya tentu bukan sesuatu hal baru di Indonesia ini.

Ia juga mengatakan, umat muslim di Aceh mencapai  98,19%  (mayoritas) tapi Aceh dan masyarakatnya bisa memberikan kebebasan beribadah kepada umat non muslim, mengapa Tolikara-Papua tidak bisa?

Korda Aceh HMMI ini juga berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus berfikir dan bekerja keras untuk mendapatkan solusi demi kebaikan umat muslim di Tolikara. Bukan malah disembunyikan seolah-olah semuanya baik-baik saja.

“Selain insiden tersebut merenggut hak ibadah yang sudah ada sejak lahir, insiden di Tolikara juga berkaitan dengan nama baik ideologi negara yang sudah tercoreng,” tambahnya.

“Adili penzalim yang sudah merebut hak umat muslim di Tolikara sesuai dengan undang-undang bukan uang. Jangan sampai Insiden yang sangat memalukan ini terulang kembali di seluruh pelosok Indonesia, mau dibawa kemana Negara Demokrasi ini,” tandas Ichsan Nanda.[pin]
Komentar

Tampilkan

Terkini