Iklan

Harga Sebuah Perjuangan

29 Juni, 2020, 12.55 WIB Last Updated 2020-06-29T05:55:17Z
“Jum saboh-saboh barang ken di peuteunte uleh peue njang jeut ta peugot deungeun barang njan, teutapi uleh padum jum geutanyoe tem bajeu keu barang njan”.

Kalimat ini merupakan kalimat pembuka di halaman pertama dalam buku diary Tengku Muhammad Hasan di Tiro ”Njum Meudehka” yang diterbitkan di tahun 1981.

Dari kalimat ini, Hasan Tiro menegaskan bahwa harga sebuah perjuangan bukan berbicara tentang apa yang kita dapatkan dari perjuangan itu tapi seberapa besar kemauan kita untuk menggapainya. 

Terlepas dari kontroversi tentang gerakan yang dia bangun, Hasan Tiro sudah menjadi ikon perlawanan Aceh terhadap kesemena-menaan penguasa saat itu.

Perkenalan saya dengan Hasan Tiro terjadi saat saya memasuki bangku perkuliahan, walau sebenarnya nama Hasan Tiro telah kerap kali saya dengar dari pembicaraan orang-orang tua di kampung khususnya dari mereka yang pernah terlibat langsung dalam gerakan yang beliau bangun.

Sejak masuk ke dunia kuliah saya sudah mulai tertarik dengan sosok bertubuh kecil ini setelah mengikuti beberapa diskusi terkait dengan sejarah Gerakan Aceh Merdeka.

Cita-cita untuk sebuah keadilan telah medorong cicit Tengku Chik di Tiro ini mendeklarasikan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976 di bukit Cokkan Gunung Halimon Pidie. 

Pendeklarasian Aceh Merdeka tidak terlepas dari kejengkelan seorang Tiro atas perlakuan Pemerintah Indonesia kala itu terhadap Aceh, apalagi semenjak di temukan nya ladang gas terbesar di dunia di Aceh Utara tahun 1974 telah membuat Pemerintah Indonesia mengekploitasi sumber daya alam di tanah Aceh untuk membangun daerah di luar Aceh sehingga membuat rakyat Aceh menjadi tamu di rumahnya sendiri.

Langkah Hasan Tiro untuk meninggalkan kehidupan mapan di Amerika dan memilih hijrah ke rimba Aceh untuk menuntut kembali hak Aceh dari Pemerintah Indonesia merupakan tindakan yang luar biasa yang patut diteladani oleh generasi sekarang sebagai pembuktian dari rasa cintanya kepada Aceh yang dicontohkan melalui tindakan bukan hanya dengan kata-kata.

Perjuangan yang dilakukan oleh Hasan Tiro juga mengingatkan saya kepada tokoh revolusi Kuba Ernesto “Che” Guevara yang berhasil menggulingkan rezim diktator Fulgencio Batista dengan cita-cita membawa negara di kepulauan Karibia itu ke arah yang berkeadilan. Walaupun kedua tokoh ini berbeda secara ideologi dan pergerakan, namun cita-cita mereka untuk sebuah keadilan adalah harga yang tidak bisa ditawar.

Pria yang bernama lengkap Tengku Hasan Muhammad di Tiro ini memang sudah mencapai titik ajalnya pada 3 Juni tahun 2010 silam, namun spirit perjuangannya untuk melawan ketertindasan dengan cita-citanya membawa Aceh kearah yang lebih baik adalah suatu hal yang patut di teladani oleh generasi zaman sekarang. 

Penulis: Fatma Azzahra (Mahasiswi Prodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar Raniry Banda Aceh)
Komentar

Tampilkan

Terkini