-->

Dari Fajar hingga Malam, Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen Hidupkan Tradisi Ngaji dan Kerukunan Umat

11 Agustus, 2026, 08.39 WIB Last Updated 2026-08-11T01:39:22Z
LINTAS ATJEH | BIREUEN - Ketika sebagian besar kota masih diselimuti keheningan menjelang pagi, suasana berbeda terasa di Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, zikir dan suara pengajian menjadi bagian dari denyut kehidupan masjid yang berdiri di jantung Kota Bireuen tersebut.

Bukan hanya menjadi tempat menunaikan salat lima waktu, Masjid Agung Sultan Jeumpa juga menjadi ruang bertemunya masyarakat dengan para ulama, pimpinan dayah dan guru-guru pengajian dari berbagai wilayah.

Tradisi itu terus hidup melalui pengajian rutin, terutama ba’da Subuh, yang berlangsung sekitar 45 menit setelah salat Subuh. Pengajian tersebut diikuti puluhan jamaah dan pada waktu tertentu dapat mencapai ratusan orang.

Pada Selasa pagi, 11 Agustus 2026, misalnya, pengajian ba’da Subuh diasuh oleh Tgk Ramadhan, yang akrab disapa Tudan, salah seorang guru pengajian aktif dari Gampong Pulo Ara, Bireuen.

Dalam suasana fajar yang perlahan beranjak terang, jamaah duduk bersaf mendengarkan uraian keagamaan. Tidak ada sekat antara masyarakat biasa, musafir, pedagang, aparatur maupun jamaah yang memang sengaja datang untuk mengikuti pengajian.

Masjid menjadi tempat beribadah sekaligus tempat menimba ilmu.

Marbot sekaligus Bilal Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Tgk Muhammad Nazir, kepada pewarta menceritakan bahwa keberadaan masjid yang berada di pusat Kota Bireuen, tepat di jalur lintas Bireuen–Takengon, membuat masjid tersebut hampir selalu menjadi tempat persinggahan masyarakat.

“Banyak pengguna jalan yang singgah di sini. Ada yang melaksanakan salat, beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan, dan ada pula yang kemudian ikut duduk mengikuti pengajian,” ujarnya.

Menurut Tgk Muhammad Nazir, pengajian ba’da Subuh memang telah menjadi salah satu aktivitas keagamaan yang terus dijaga.

Setiap hari telah disusun jadwal guru yang mengisi pengajian. Para pengasuhnya berasal dari kalangan ulama, pimpinan dayah, imam besar masjid maupun guru pengajian yang selama ini aktif membina masyarakat.

Di antara pengisi pengajian tersebut adalah Abati Agussalem, pimpinan Dayah Raudhatul Muta’alimin Meunasah Dayah, yang dijadwalkan mengisi pengajian pada Subuh Rabu.

Kemudian Abon Muhammad Cot Tarum, pimpinan Dayah Darussa’adah Cot Tarum Baroh, yang mengisi pengajian pada Subuh Sabtu dan Minggu.

Sementara Abah Azhari, pimpinan Dayah Cot Tarum Tunong, mengisi pengajian pada Subuh Senin.

Pada Subuh Jumat, pengajian diasuh oleh Imam Besar Masjid Agung Sultan Jeumpa, Abi Saifuddin.

Abi Saifuddin juga menjadi salah satu guru yang dapat menggantikan pengisi pengajian lainnya apabila berhalangan, bersama sejumlah guru pengganti seperti Tgk Idris dan Tgk Attailah.

Dengan pola tersebut, pengajian ba’da Subuh tidak hanya berlangsung sebagai rutinitas, tetapi menjadi ruang kesinambungan ilmu dari satu guru kepada guru lainnya.

Materi yang disampaikan juga tidak berhenti pada satu bidang keilmuan. Para guru membahas berbagai persoalan agama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari jamaah.

Mulai dari tauhid, fiqih, akhlak, ibadah, muamalah hingga tafsir Al-Qur’an.

Dalam tradisi pengajian keislaman di Aceh, sejumlah kitab turats yang dikenal luas dan lazim menjadi rujukan antara lain ‘Aqidatul ‘Awam dan Jauharat al-Tauhid untuk kajian tauhid; Fathul Mu’in, I’anatut Thalibin, Sabilal Muhtadin dan kitab-kitab fiqih lainnya untuk pembahasan hukum ibadah dan kehidupan sehari-hari; serta Tafsir Jalalain dan kitab tafsir lainnya untuk memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.

Pemilihan kitab dan materi tentu disesuaikan dengan guru yang mengasuh pengajian serta kebutuhan jamaah.

Dari lembaran kitab-kitab tersebut, jamaah diajak memahami agama bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Masjid yang Tidak Pernah Sepi dari Aktivitas Keagamaan

Aktivitas keagamaan di Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen tidak hanya berlangsung pada waktu Subuh.

Pengajian juga rutin digelar pada waktu lainnya.

Pada Sabtu malam ba’da Magrib, pengajian diasuh oleh Abi Kasman Arifa, yang berasal dari Aceh Barat Daya (Abdya).

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Sementara pada Rabu malam ba’da Isya, pengajian diisi oleh Abidon atau Tgk H. Zulkifili, pimpinan Dayah Dhuratul Hidayah, Geulanggang Kulam, Bireuen.

Kehadiran para guru dari berbagai latar belakang tersebut memperlihatkan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya jamaah untuk melaksanakan ibadah mahdhah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran agama yang terbuka bagi masyarakat.

Di tempat itu, masyarakat dapat duduk bersama dalam satu saf, mendengarkan nasihat yang sama dan mempererat silaturahmi tanpa melihat latar belakang sosial.

Di Tengah Kesibukan Kota, Ada Ruang untuk Mendekat kepada Allah

Letak Masjid Agung Sultan Jeumpa yang strategis membuatnya memiliki peran lebih luas.

Ia menjadi tempat singgah bagi musafir, tempat beribadah bagi warga kota, sekaligus tempat mencari ketenangan bagi siapa saja yang sedang melakukan perjalanan.

Ketika kendaraan terus bergerak di jalan lintas Bireuen–Takengon, aktivitas di dalam masjid justru menghadirkan suasana yang berbeda: tenang, teduh dan penuh nuansa keagamaan.

Ada jamaah yang datang untuk salat.

Ada yang membuka Al-Qur’an.

Ada yang duduk menyimak pengajian.

Ada pula musafir yang sekadar beristirahat, kemudian memilih tetap berada di masjid untuk mengikuti majelis ilmu.

Di sinilah masjid memperlihatkan fungsi sosial dan spiritualnya secara bersamaan.

Menjaga Rumah Allah, Menjaga Komunikasi dengan Semua Pihak

Sementara itu, UPTD Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Tgk Zainuddin, terus melakukan pengawasan dan membangun komunikasi dengan berbagai pihak guna memastikan aktivitas masjid berjalan dengan baik.

Koordinasi tersebut tidak hanya menyangkut kelancaran kegiatan keagamaan, tetapi juga berbagai kebutuhan pengelolaan, pemeliharaan dan pembangunan masjid.

Komunikasi dengan para guru pengajian, jamaah dan pihak-pihak terkait menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas Masjid Agung Sultan Jeumpa sebagai salah satu pusat kehidupan keagamaan masyarakat Bireuen.

Masjid pun tidak sekadar berdiri megah di tengah kota.

Ia hidup melalui suara azan, lantunan Al-Qur’an, majelis ilmu, doa, silaturahmi dan langkah kaki masyarakat yang datang untuk beribadah.

Tradisi pengajian dari fajar hingga malam itu pada akhirnya menghadirkan sebuah pesan sederhana: pembangunan masjid tidak cukup hanya dengan memperindah bangunan.

Masjid harus dihidupkan dengan ibadah dan ilmu.

Dari Subuh hingga malam, Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen berusaha menjaga denyut tersebut.

Para ulama menyampaikan ilmu, jamaah menyimak, musafir mendapatkan tempat beristirahat, sementara masyarakat memperoleh ruang untuk bersilaturahmi dan memperkuat ukhuwah.

Di tengah kesibukan kehidupan modern, majelis-majelis ilmu itu menjadi pengingat bahwa masjid tetap memiliki tempat penting dalam membentuk masyarakat yang religius, berilmu dan saling menghormati.

Sebab masjid yang hidup bukan hanya terdengar azannya, tetapi juga terdengar ilmu, doa dan nasihat yang menuntun umat pulang kepada Allah SWT.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini