-->

Sayuti Abubakar Dukung Edi Obama sebagai Calon Ketua Dewan Pembina Yayasan Almuslim, Tekankan Amanah Wakaf dan Marwah Musyawarah

18 Oktober, 2026, 22.30 WIB Last Updated 2026-10-19T01:30:52Z
LINTAS ATJEH | BIREUEN - Dukungan terhadap Edi Saputra, S.H., M.M., yang akrab disapa Edi Obama, untuk maju sebagai calon Ketua Dewan Pembina Yayasan Almuslim pada periode mendatang mendapat dukungan dari sejumlah tokoh, termasuk Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H. Dukungan tersebut sebagaimana disampaikan kepada pewarta di salah satu Warung Kopi di Kecamatan Peusangan pada Minggu (18/10/2026).

Bagi Sayuti Abubakar, pergantian kepemimpinan Yayasan Almuslim bukan sekadar persoalan pergantian jabatan, melainkan momentum penting untuk menjaga amanah sejarah, memperkuat persatuan masyarakat Peusangan, serta memastikan keberlanjutan warisan pendidikan yang telah dirintis oleh para ulama, indatu, dan masyarakat.

Sebagai putra asli Peusangan, Sayuti berharap proses penentuan Ketua Dewan Pembina Yayasan Almuslim berlangsung secara demokratis, bermartabat, dan sesuai dengan anggaran dasar, anggaran rumah tangga (AD/ART), serta ketentuan yang berlaku.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang yang adil bagi seluruh pemilik suara yang sah, termasuk yang berasal dari empat kecamatan di kawasan Peusangan Raya, yakni Peusangan, Peusangan Siblah Krueng, Peusangan Selatan, dan Jangka, sesuai dengan ketentuan organisasi.

“Yang harus kita jaga bukan hanya proses pergantian kepemimpinan, tetapi juga marwah Yayasan Almuslim. Musyawarah harus menjadi ruang yang bermartabat, tempat setiap pemilik suara yang sah dihormati dan keputusan diambil berdasarkan mekanisme yang berlaku,” demikian pesan yang ditekankan dalam menyikapi proses pergantian kepemimpinan tersebut.

Yayasan Almuslim memiliki nilai historis, sosial, dan keagamaan yang sangat penting bagi masyarakat Peusangan. Keberadaannya merupakan bagian dari perjalanan panjang perjuangan dalam mengembangkan pendidikan dan mencerdaskan generasi bangsa.

Karena itu, pengelolaan yayasan harus senantiasa berlandaskan prinsip transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, dan tanggung jawab. Terlebih, aset wakaf yang menjadi bagian dari amanah masyarakat harus dilindungi, dipelihara, dan dikelola sesuai dengan peruntukan serta ketentuan hukum yang berlaku.

Pesan moral yang perlu menjadi perhatian seluruh pihak adalah bahwa Yayasan Almuslim harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Kepentingan lembaga, keberlanjutan pendidikan, dan kemaslahatan masyarakat harus menjadi prioritas utama.

“Yayasan Almuslim bukan milik pribadi atau kelompok. Ini adalah amanah besar dari ulama, indatu, dan masyarakat Peusangan. Harta wakaf harus dijaga dan dikelola dengan penuh tanggung jawab, karena pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah SWT,” kata Sayuti.

Prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yayasan bukan semata-mata kehormatan atau kedudukan, melainkan tanggung jawab besar yang menuntut integritas, keteladanan, dan komitmen terhadap kepentingan umat.

Menanggapi dukungan tersebut, Edi Saputra menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Sayuti Abubakar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dukungan yang diberikan kepadanya tidak dapat dimaknai sebagai keputusan akhir dalam penentuan kepemimpinan Yayasan Almuslim.

Menurut Edi, keputusan tetap harus ditentukan oleh para pemilik suara yang sah melalui mekanisme musyawarah sesuai dengan aturan organisasi.

Sikap tersebut, menurutnya, merupakan bentuk penghormatan terhadap proses demokratis sekaligus terhadap kedudukan Yayasan Almuslim sebagai lembaga yang mengemban amanah masyarakat luas.

“Saya tidak ingin mendahului kehendak para pemilik suara. Bagi saya, Yayasan Almuslim jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi. Jika masyarakat memberikan amanah, maka amanah itu harus dijalankan dengan kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab. Jika belum menjadi kehendak musyawarah, saya tetap menghormatinya,” ungkap Edi.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dukungan dan pencalonan harus tetap berada dalam koridor yang sehat dan bermartabat. Tidak boleh ada pihak yang merasa paling berhak atas kepemimpinan, dan proses musyawarah tidak seharusnya berubah menjadi arena persaingan yang merusak hubungan persaudaraan.

Pada akhirnya, kehormatan seorang calon tidak hanya ditentukan oleh peluang menduduki jabatan, tetapi juga oleh kesediaannya menghormati aturan, menerima keputusan yang sah, dan menempatkan kepentingan lembaga di atas kepentingan pribadi.

Edi Obama juga mengajak seluruh elemen masyarakat Peusangan untuk menjaga persatuan, menghindari perpecahan, serta tidak membiarkan perbedaan pilihan menimbulkan perselisihan berkepanjangan.

Menurutnya, pergantian kepemimpinan semestinya menjadi momentum untuk memperkuat kepercayaan, meningkatkan kualitas tata kelola, dan meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga masa depan Yayasan Almuslim.

Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pandangan dan menentukan pilihan masing-masing. Namun, seluruh perbedaan tersebut perlu disalurkan melalui mekanisme yang sah dengan mengedepankan adab, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hak setiap pihak.

Sebab, kemenangan dalam musyawarah tidak akan memiliki makna yang utuh apabila harus dibayar dengan rusaknya persaudaraan dan melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga.

Oleh karena itu, perhatian seluruh pihak perlu diarahkan pada persiapan musyawarah yang sesuai dengan AD/ART dan ketentuan yang berlaku. Kejelasan mekanisme, kepastian hak suara, keterbukaan proses, serta penghormatan terhadap keputusan yang sah merupakan fondasi penting bagi legitimasi kepemimpinan Yayasan Almuslim.

Dukungan Sayuti Abubakar terhadap Edi Obama merupakan bagian dari dinamika menjelang pergantian kepemimpinan. Namun, penentuan pemimpin tetap harus berpijak pada mekanisme musyawarah yang sah, bukan semata-mata pada dukungan tokoh, popularitas, ataupun kepentingan kelompok tertentu.

Yayasan Almuslim membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga amanah masa lalu sekaligus menjawab tantangan masa depan. Kepemimpinan yang tidak hanya berbicara tentang jabatan, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab; tidak hanya menjanjikan perubahan, tetapi juga menghadirkan tata kelola yang transparan, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar siapa yang akan menjadi Ketua Dewan Pembina. Lebih dari itu, yang harus dijaga adalah marwah Yayasan Almuslim, kepercayaan masyarakat, serta keberlanjutan amanah wakaf untuk generasi mendatang.

Musyawarah yang bermartabat harus menjadi jalan bersama. Jabatan boleh berganti dan kepemimpinan dapat bergulir, tetapi amanah para ulama dan masyarakat harus tetap terjaga.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini