LINTAS ATJEH | BIREUEN - Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXVIII Tingkat Kecamatan Peusangan Tahun 2026 resmi dibuka pada Kamis (15/10/2026) di Aula Kantor Camat Peusangan, Kabupaten Bireuen. Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat pembinaan generasi Qur’ani sekaligus membangkitkan semangat Kecamatan Peusangan untuk kembali mengukir prestasi pada MTQ tingkat Kabupaten Bireuen.
Pembukaan berlangsung khidmat, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, selawat Badar, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta Himne Aceh yang diikuti para undangan.
Camat Peusangan, Alfian, S.Sos., dalam sambutannya menyampaikan bahwa MTQ bukan sekadar ajang perlombaan untuk meraih juara, tetapi juga sarana membina generasi muda agar mencintai, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebutkan, MTQ XXXVIII diikuti perwakilan dari sembilan kemukiman di Kecamatan Peusangan. Berdasarkan rincian awal, jumlah peserta tercatat sebanyak 208 orang, meskipun angka tersebut masih perlu disesuaikan dengan data final panitia.
Alfian berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti perlombaan dengan penuh semangat, disiplin, dan kesungguhan. Ia juga meminta para pelatih serta pendamping memberikan pembinaan secara serius, terarah, dan berkelanjutan agar peserta mampu bersaing hingga tingkat kabupaten.
“Target kita bukan hanya sukses menyelenggarakan MTQ, tetapi juga sukses membina peserta dan melahirkan generasi Qur’ani yang berprestasi serta berakhlak mulia,” demikian pesan Camat Peusangan.
Pembukaan MTQ secara resmi dilakukan oleh Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Bireuen, Munawar, S.K.M., M.Kes., yang hadir mewakili Bupati Bireuen.
Dalam pesannya kepada para peserta, Munawar mengajak generasi muda untuk terus menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, tekun belajar, dan tidak pernah berhenti mengejar cita-cita.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
“Bermimpilah setinggi langit, teruslah belajar dan mencintai Al-Qur’an. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan hanya untuk dibaca dan dilombakan, tetapi juga untuk dipahami serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Munawar berharap MTQ tidak hanya melahirkan juara dalam berbagai cabang perlombaan, tetapi juga membentuk generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Ia turut mendorong peserta, pelatih, pendamping, serta seluruh pihak terkait untuk memaksimalkan persiapan dan pembinaan. Dengan kerja keras dan dukungan bersama, Kecamatan Peusangan diharapkan dapat kembali meraih prestasi pada MTQ tingkat Kabupaten Bireuen.
Untuk mendukung pelaksanaan MTQ, panitia menyiapkan empat dewan hakim yang memiliki pengalaman dan keterkaitan dengan pembinaan Al-Qur’an.
Mereka adalah Drs. Tgk. H. Anwar Mahmud, tokoh agama dari Gampong Blang Asan, Kecamatan Peusangan, yang dikenal sebagai mantan qari dan pernah meraih juara II Nasional II tingkat Aceh puluhan tahun lalu; Tgk. Rizal Fuadi dari Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Bireuen; Tgk. Salahuddin dari LPTQ Kabupaten Bireuen; serta Tgk. Nazaruddin, S.P., dari unsur imum gampong.
Kehadiran dewan hakim diharapkan dapat menjamin penilaian yang objektif, adil, dan profesional sehingga peserta terbaik dapat terpilih untuk mewakili Kecamatan Peusangan pada tingkat berikutnya.
Usai pembukaan, para peserta langsung mengikuti training center (TC) sebagai bagian dari persiapan menghadapi perlombaan yang dijadwalkan berlangsung mulai Jumat (16/10/2026) di Aula Kantor Camat Peusangan.
Pembinaan ini menjadi bagian penting untuk mematangkan kemampuan peserta, meningkatkan kepercayaan diri, memperkuat mental bertanding, serta memperbaiki kekurangan melalui arahan pelatih dan pendamping.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Muspika Peusangan, pihak keamanan, para imum mukim, keuchik, perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA), tokoh agama, panitia, pendamping, serta seratusan peserta MTQ dari sejumlah kemukiman.
Melalui pelaksanaan MTQ XXXVIII ini, Kecamatan Peusangan menaruh harapan besar terhadap lahirnya generasi muda yang tidak hanya unggul dalam membaca dan memahami Al-Qur’an, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Semangat yang dibangun bukan sekadar mengejar kemenangan, melainkan memperkuat pembinaan, menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, dan mempersiapkan generasi Qur’ani yang mampu mengharumkan nama Peusangan.[*/Red]
